Pemimpin yang Rendah Hati

Muhammad saw adalah manusia istimewa. Para sahabat pun mengistimewakan Nabi mengingat kedudukannya yang agung dan pribadinya yang mulia. Namun beliau tidak mengistimewakan dirinya di hadapan mereka dan tidak pula ingin diperlakukan istimewa oleh mereka. Kerendahan hati sifat Nabi terekam dalam berbagai riwayat yang menyertai kehidupan beliau, tidak hanya terhadap sahabat, tetapi juga terhadap sesama manusia.

Saat berkumpul, misalnya, Nabi tidak mengizinkan para sahabat berdiri (menyambutnya) ketika beliau datang. Kata beliau, “Janganlah kalian berdiri demi menghormatiku sebagaimana orang-orang Persia (Iran) menghormati orang-orang yang dihormatinya.” Tulusnya cinta Nabi kepada mereka membuat beliau merasa tidak perlu diperlakukan melalui sikap penghormatan yang berlebih-lebihan.

Demi menjaga etika sekaligus menunjukkan bahwa beliau tidak lebih istimewa di hadapan para sahabat, Rasulullah menjaga betul sikapnya. Sewaktu duduk di suatu majelis atau perkumpulan, umpamanya, Nabi tidak pernah menjulurkan kakinya di antara mereka.

 

Ketika duduk, beliau duduk di mana saja tanpa pilih-pilih tempat. Nabi duduk sama rendah dengan para sahabatnya dan berdiri sama tinggi dengan mereka.

 

Abu Sa’id berkata, “Aku duduk bersama orang-orang muhajirin. Sebagiannya menutupi badan teman-temannya karena tidak memiliki baju. Rasulullah duduk di tengah-tengah mereka untuk menyertainya.”

Kasih sayang Rasul kepada para sahabat seolah memupus status kerasulan yang begitu tinggi menjulang. Diceritakan, dalam suatu perjalanan, Nabi dan para sahabat menyembelih seekor domba. Pembagian tugas pun tebentuk; ada yang mencari kayu bakar, mencuci, memasak, dan lainnya. Nabi melibatkan diri dalam salah satu pekerjaan; mencari kayu bakar.

Para sahabat merasa tidak enak jika seorang rasul Allah harus terlibat dalam pembagian pekerjaan seperti itu. Suatu pekerjaan sepele yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Apalagi, tanpa keterlibatan beliau, para sahabat masih leluasa untuk melakukannya.

Kata mereka, “Wahai Rasulullah, biarlah kami yang mengerjakannya.”

“Benar, tapi saya tidak ingin lain sendiri dibandingkan dengan sahabat-sahabatku. Sesungguhnya Allah swt tidak senang melihat seseorang berbeda dari sahabat-sahabatnya,” jelas Nabi dengan tenangnya. Tidak hanya itu, saat hendak melakukan sesuatu, beliau tidak suka memerintah sebelum beliau sendiri mengerjakannya.

Begitulah Nabi. Beliau adalah sahabat yang senantiasa menunjukkan nilai-nilai cinta terhadap sahabat-sahabatnya. Padahal, mudah saja bagi beliau memerintahkan mereka untuk mengerjakan pekerjaan tertentu tanpa membantunya sama sekali. Sebagai pemimpin, beliau melekat dengan tipe keteladanan, bukan tipe pemerintah.

Seorang ahli pengembangan diri terkemuka, Stephen Covey (2007), menjelaskan, meskipun kerendahan hati bukan sesuatu yang dapat diraba, kita mengenalnya di saat kita menyaksikannya, dan merasakannya di saat kita mendengarnya. Begitu pula dengan kerendahan hati sang manusia agung itu, Muhammad saw.

Rendah hati (tawadhu’) merupakan sifat yang sangat terpuji di sisi Allah dan sangat disenangi oleh orang lain. Rendah hati akan melahirkan berbagai sikap mulia seperti menghargai dan menghormati orang lain.

“Janganlah kalian memuji diri kalian (menyombongkan diri)….” (An-Najm [53] : 32)

“Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy-Syu’ara’ [26] : 215)

Menurut imam Syafi’i, sifat tawadhu’ akan melahirkan cinta kasih. Rendah hati membawa diri pada keselamatan, menciptakan keakraban, menghilangkan kedengkian dan perseng­ketaan. Buah dari sikap tazvadbu’ (rendah hati) adalah kecintaan, sebagaimana ketenangan adalah buah dari sikap gana’ah (kecukupan). Jika orang yang mulia mempunyai sikap rendah hati, maka ber­tambahlah kemuliaannya, sebagaimana orang hina yang sombong, maka bertambahlah kehinaannya.

Syaikh Khumais As-Said menjelaskan, orang yang berakal akan bersikap rendah hati bila melihat orang yang lebih tua darinya seraya mengatakan, “la lebih dulu dariku masuk Islam.” Bila melihat orang yang lebih muda is bersikap rendah hati dengan mengatakan, “Saya lebih dahulu berbuat dosa daripada la”. Tatkala melihat orang yang sebaya menganggapnya sebagai saudara. Rasa rendah hati itulah yang membuat ia tidak bersikap sombong terhadap saudaranya dan tidak menganggap remeh seseorang.

About bangsoy

Hidup Untuk berkarya

Posted on 29 Mei 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: