Membangun kesadaran berIslam

Dalam sebuah hadits diriwayatkan :
“Islam itu awalnya asing dan ia akan kembali asing seperti permulaannya, maka bahagialah golongan ghuraba. Sahabat-sahabat bertanya kepada beliau: Siapakah golongan ghuraba ya Rasulullah? Beliau bersabda: Mereka adalah golongan yang memperbaiki keadaan yang dirusakkan manusia”.(HR. Ahmad)

Sungguh benarlah hadits ini, dapat kita lihat fenomena kaum muslimin di sekitar kita, betapa banyak diantara kita yang mengaku muslim tapi tidak menunjukkan bekas dari keIslamannya tsb sampai-sampai populer istilah “Islam KTP”. Atau menjalankan Islam tapi hanya sebatas ritual-ritual ibadahnya saja yang menunjukkan pemahaman yang parsial terhadap ajaran Islam.

Di lain pihak, kita juga melihat sebagian umat Islam, yang jumlahnya relatif sedikit yang merasa prihatin dengan keadaan tsb dan berusaha memperbaikinya. Bisa dibayangkan besarnya pahala yang akan diraih oleh kaum ghuraba serta tingginya kedudukan mereka. Yang dimaksud adalah kaum ghuraba terhadap agamanya alias mereka menjadi asing lantaran berpegang teguh kepada al-Haq dan beristiqamah terhadapnya, bukan mereka yang menjauh dari negeri asalnya dan menjadi asing disana.

Hadits itu juga menyiratkan salah satu faktor yang membedakan antara kedua golongan tsb adalah perbedaan kesadaran terhadap Dinul Islam. Kesadaran akan ajaran Islam yang kaffah(menyeluruh) mencakup seluruh lini kehidupan, yang sebelum datangnya Islam tidak dikenal adanya Din yang serupa.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. 2:208)

Urgensi membina kesadaran berIslam juga bisa dilihat dari 4 faktor berikut :

1. Islam harus dimulai dari kesadaran

Berislam yang benar seharusnya dimulai dari kesadaran, bukan ikut-ikutan. Bisa saja seseorang bersyahadat tanpa kesadaran, namun hal itu tidak akan punya makna dan sulit dipertanggungjawabkan. Sebab yang menjadi dasar pegangan ucapan dan sikapnya adalah tradisi, bukan pilihan kesadaran hati.

Kesadaran dalam berislam itu penting artinya. Sebab aspek batiniah hanya bermakna dan bernilai jika disertai dengan kesadaran, dalam hal ini niat karena Allah Subhaanahu wa ta’ala. Karena itu dikatakan, awaluddien ma’rifatullah, awal dari dien adalah mengenal Allah.

Pada hakekatnya setiap tindakan yang dijalankan tanpa kesadaran tauhid tidak memiliki nilai dan makna. Karena segala amal perbuatan manusia itu dinilai dari niatnya. Ibadah yang kehilangan makna tidak akan memberikan buah. Shalat dilakukan, tetapi kemunkaran tetap jalan terus.

2. Kesadaran, bahwa berislam adalah kebutuhan

Seseorang yang memilih Islam sebagai agamanya secara sadar, akan merasakan Islam sebagai kebutuhan, bukan sebagai beban atau paksaan. Dia memilih Islam karena butuh kepada Allah dan menyadari posisinya sebagai hamba yang butuh bimbinganNya. Sudah menjadi fitrah manusia bila selalu ingin berterima kasih kepada Dzat yang Maha Segalanya. Dengan kesadaran semacam itu, dia akan mampu menikmati komunikasi dan pengorbanannya kepada Allah Swt. Dengan begitu berislam akan terasa ringan dan mudah. Seseorang yang berislam dari kesadaran akan mampu mengembangkan bobot dan kualitas imannya lebih jauh.

Berbeda halnya dengan seseorang yang sejak awal berislam bukan dari kesadaran. Ia akan merasakan Islam sebagai beban. Ibadah yang dilakukan akan dirasakan sebagai keterpaksaan. Bahkan tidak mustahil bobot keislamannya merosot. Agar hal itu tidak terjadi, maka tidak ada jalan lain kecuali membuka kesadaran hatinya.

3. Islam harus menjadi pilihan kesadaran

Tidak ada paksaan dalam agama, karena sesungguhnya telah jelas petunjuk dan kesesatan. Allah Swt memberikan kemerdekaan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya, iman atau kufur. Masing-masing telah dibentangkan jalannya, cara pencapaiannya, dan konsekuensinya. Seseorang yang menjadikan Islam sebagai pilihan hidup secara sadar, ia tahu bahwa Islam sebagai petunjuk kebenaran dalam hidupnya. Dia tidak mau menukar petunjuk dengan kesesatan. Islam dipilih karena disadari sebagai rahmat.

4. Kesadaran untuk menyebarkan dan memperjuangkan

Seseorang yang telah memilih Islam dengan kesadaran dan mampu menikmatinya, akan tumbuh dorongan dari dalam untuk menyebarkan Islam dan memperjuangkannya. Inilah yang menyebabkan sejak kelahirannya, yang dimulai dari turunnya seruan iqra’, gerak da’wah Islam langsung berjalan.

Abu Bakar yang baru masuk Islam, berusaha merekrut teman-temannya seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Bilal bin Rabbah. Bila seseorang berislam bukan atas kesadaran sendiri, maka tidak akan ada dorongan berda’wah. Jangankan berda’wah untuk orang lain, mempertahankan keislamannya sendiri saja sudah berat.

Sebagai hasil tumbuhnya kesadaran berIslam sangat jelas digambarkan dalam ayat berikut :
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk(memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (QS. 6:125)

Terakhir, kiat membangun kesadaran berislam dapat diringkas sebagai berikut :
a) Tarbiyah bit talaqqi agar bertambah ilmu
b) Tarbiyah bil ahdats agar tinggi apresiasinya:
i) Menjaga hidayah atas keislamannya
ii) Mengajak orang untuk berislam
iii) Berjuang untuk mempertahankan dari serangan lawan

About bangsoy

Hidup Untuk berkarya

Posted on 4 November 2010, in Spiritual. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: