Memahami Mbah Maridjan (Sang Pengemban Amanat sejati)

“Ojo melu-melu aku, manuto karo wong pinter kae. Aku nang kene muk kon jogo.”

Belum pulih terhadap duka Wasior, Indonesia dihantam tsunami tepatnya di sekitar kepulaua Mentawai. Gelombang tsunami ini menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya hilang tanpa kabar. Presiden beserta jajarannya langsung mengirim tenaga bantuan untuk membantu melakukan rekonstruksi.
Namun sekali lagi manusia memang tidak bisa berbuat apa-apa jika alam sudah bertindak. Belum sempat tim rekonstruksi berangkat ke Mentawai sudah ada musibah lain yang datang menghampiri. Letusan Merapi datang membawa korban jiwa. Salah satunya adalah tokoh fenomenal yang akrab disapa Mbah Marijan.
Banyak yang berduka atas kepergiannya. Namun ironisnya ada juga sebagian masyarakat yang justru gembira dan menumpahkan kekesalannya kepada almarhum. Sebagian mereka menganggap almarhum bersalah atas kematian warga lainnya. Sungguh miris, jika mereka mengenal sosok almarhum yang sesunguhnya pasti mereka akan menangisi diri mereka sendiri. Kita sering mendengar berita tentang almarhum, namun apakah kita benar-benar memahami almarhum?

Mbah Marijan yang saya kenal

“Ojo difoto yo, Mbah isin. Mbah udu artis.”

Saya pertama kali mengetahui sosok almarhum melalui media massa. Saat itu tahun 2008 dimana Merapi tampaknya akan meletus dan Mbah Marijan enggan mengungsi. Apa yang saya pikirkan tentang almarhum saat itu mungkin sama dengan angapan sebagian masyarakat saat ini.
Sebagai seorang juru kunci keraton, saya membayangkan sosok almarhum sebagai seseorang yang sangat kejawen dan jauh dari ajaran Islam. Memiliki banyak benda pusaka, sering bersemedi dan bertapa meminta wangsit, dan sebagainya. Terlebih lagi media massa menggambarkan sosok almarhum sebagai seorang juru kunci yang sakti.
Hal kedua yang saya pikirkan saat itu adalah sosok yang angkuh, sombong, keras kepala dan kuat. Terlebih lagi dalam iklan sebuah produk digambarkan almarhum sebagai sosok yang kuat dan keras. Penolakannya terhadap ajakan untuk mengungsi juga seolah menggambarkan almarhum sebagai sosok yang angkuh.
Namun pada akhirnya saya berkesempatan langsung bertemu dengan beliau. Saya yakin mereka yang telah bertemu dengan beliau pasti akan langsung berubah pikirannya tentang sosok almarhum. Sosok almarhum yang sesungguhnya sangat berbeda dengan anggapan saya sebelumnya.
Mbah Marijan adalah seorang kakek tua pemalu lugu yang hidup sederhana. Jauh dari kesan kuat ataupun keras kepala, maka almarhum sesungguhnya termasuk orang yang pemalu dan lugu. Sosok yang seringkali menolak waktu diambil gambarnya dan seringkali menutupi wajahnya ini adalah gambaran masyarakat pedesaan yang masih lugu, jauh dari masyarakat modern yang penuh prasangka dan curiga saat ini.
Sosok Mbah Marijan begitu lembut dan menyenangkan. Belia begitu ramah kepada orang asing dengan dibumbui sedikit rasa malu. Pribadi sederhana yang tidak macam-macam. Pribadi yang sulit saya jumpai di perkotaan.
Sewaktu saya sampai di rumanya dan melihat kesehariannya saya melhat Mbah Marijan jauh dari hal-hal yang berbau syirik. Tidak seperti apa yang saya duga selama ini. Kemampuanya melihat kejadian alam bukan karena kekuatan magis mistik namun semata-mata hanya dari ilmu titen yaitu dengan memperhatikan fenomena alam yang biasa terjadi.
Mbah Marijan adalah sosok sederhana yang sering ke masjid. Bahkan konon katanya penghasilannya sebagai bintang iklan untuk sebuah produk dihabiskannya hanya untuk membangun masjid dan lingkungan desanya, tidak untuk dirinya sendiri. Di masjid pun biasanya almarhum tidak menjadi imam. Benar-benar sosok pemimpin yang rendah hati.

Juru Kunci

Sebagai seorang pemuda desa yang sederhana, diberi amanah oleh seorang Raja dalam hal ini Sultan Hamengku Buwono IX sebagai seorang juru kunci tentu sebuah kehormatan yang sangat besar. Bayangkan saja jika seseorang yang sangat anda sayangi atau anda kagumi menyapa anda, tentu anda sudah akan bahagia setengah mati. Namun ini tidak hanya tentang sapaan, ini sebuah amanah.
Sebagai seorang yang sederhana, saya memahami jika almarhum menjunjung tinggi amanah yang diberikan kepadanya sebagai juru kunci merapi. Dalam artian bahwa almarhum harus sealu berada dekat dengan merapi dan menjadi yang terdepan. Anggaplah sebagai seorang duta besar Keraton untuk Merapi.
Sebagai seorang duta besar yang baik, tentunya harus selalu berada dekat dengan negara yang diamanahkan kepada kita. Kita memiliki tugas untuk erus menjaga hubungan baik antara negara kita dengan negara lain apapun yang terjadi. Keberadaannya sebagai bentuk penghoratan bagi negara lain.
Begitu juga dengan almarhum. Sejak awal almarhum memang mengabdikan hidup dan matinya untuk menjaga Merapi apapun yang terjadi. Sebuah kesetiaan dalam menjunjung tinggi amanah meski harus dihargai dengan nyawa. Kesetiaan yang dalam masyarakat modern hanya dianggap sebagai kekonyolan yang pantas untuk ditertawakan.
Almarhum juga tidak pernah memiliki keinginan masyarakat percaya kepada dirinya. Berkali-kali almarhum berkata untuk jangan percaya kepadanya, percayalah kepada para ahli. Lamarhum juga sudah menganjurkan masyarakat untuk ikut mengungsi.
Namun kasih sayang masyarakat dan orang-orang yang telah mengenal almarhum jauh lebih besar daripada nyawa. Kasih sayang yang meyebabkan sebagian besar masyarakat tetap memilih tinggal bersama almarhum dan berulangkali membujuk almarhumuntuk turun.
Akan tetapi bagi almarhum hanya ada satu pilihan: hidup mati akan tetap menjaga amanah yang telah diberikan seorang Sultan kepadanya.

Antara Fitnah dan Ghibah

“Janganlah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu ketahui”

Rasulullah pernah mengingatkan kepad salah seorang sahabat untuk tidak membicaakan keburukan orang lain. Lalu sahabat bertanya, “Bagaimana jika keburukan itu memag nyata adanya”. Maka Rasulullah berkata bahwa jika benar adanya maka itu yang disebut ghibah dan jika tidak benar maka itu disebut fitnah.
Ghibah adalah salah satu perbuatan terkutuk dimana Allah SWT menyamakan perbuatan tersebut dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Sedangkan fitnah adalah perbuatan terkutuk lainnya dimana Rasulullah bersabda bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Maka siapa pun yang menjelek-jelekkan orang lain atau mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain maka baginya hanya ada dua pilihan: memakan bangkai saudaranya sendiri atau lebih kejam daripada membunuh.
Jika ada yang pantas menutupi mukanya adalah kita, sebagaimana almarhum menutupi mukanya dari kamera maka kita seharusnya lebih malu dihadapan Allah SWT nantinya. Kita yang telah melupakan nilai-nilai luhur yang almarhum pegang teguh hingga akhir hayatnya. Kita yang menertawakan apa yang almarhum perjuangkan.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya. Terimalah amal ibadahnya dan mudahkanlah jalannya. Ampuni kami yang telah berbuat dzalim. Sadarkanlah kami akan kesalahan kami dan semoga kami tidak mengulangi kesalahan tersebut. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf dan Maha Penerima Taubat. Amin.

About bangsoy

Hidup Untuk berkarya

Posted on 27 Oktober 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: