Rupiah Akan Dipotong Rp 100.000 Jadi Rp 100 Bakal Jadi Isu Sensitif

Sumber : Warta Kota

ISU panas redenominasi (pemotongan nilai) pecahan rupiah dari Rp 100.000 menjadi Rp 1OO dan Rp 1.000 menjadi Rp 1 hasil riset Bank Indonesia (BI) dilempar ke publik. Tapi, redenominasi itu tampaknya belum akan diterapkan dalam waktu dekat.
Kepala Biro Humas BI, Difi A Johansyah, menegaskan bahwa untuk redenominasi rupiah dibutuhkan waktu dan persiapan yang lama dan matang, termasuk sosialisasinya. Hal Itu juga harus betul-betul berdasarkan kebutuhan masyarakat dan ekonomi.

“Dengan wilayah geografi yang luas serta jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, biaya sosialisasi redenominasi rupiah dipastikan akan sangat besar. Dan di banyak negara, redenominasi berjalan sukses ketika Inflasi dan ekspektasi Inflasi stabil serta rendah.” ucap Difi kepada pers rdi Jakarta. Senin (2/8).

Isu pemotongan nilai pecahan mata uang rupiah sebenarnya sudah bergulir sejak nilai tukar rupiah melorot 4-5 kali lipat terhadapmata uang dolar AS. Pemerintah berkali-kali membantah isu pemotongan rupiah yang sempat membuat trauma banyak orang Indonesia pada tahun 1950 dengan menggunting uang menjadi setengahnya. Tapi, wacana redenominasi rupiah ini sudah dirancang BI sejak lama. Pemotongan nilai pecahan mata uang rupiah Ini Istilah kerennya redenomlnasl rupiah. Dalan) re-denominasi. yang terjadi hanya pemotongan nilai pecahan mata uang menjadi lebih kecil dan nilai tukarnya tetap.

Sabtu pekan lalu. Gubernur BI terpilih Darmin Nasution mengatakan, pihaknya tengah merencanakan redenominasi rupiah. “BI sedang menyiapkan sejumlah hal agar nilai Rp 1 itu lebih berarti dibandingkan yang terjadi saat Ini.” ujarnya. Rencana redenomtnasl rupiah itu masih akan dibahas terlebih dahulu dengan pemerintah dan DPR. “Harus melalui DPR. dan setelah Itu baru kita sosialisasikan kepada masyarakat.” kata Darmin.

Dipotong 3 digit Redenominasi rupiah akan memotong Uga digit pada nilai mata uang. Misalnya mata uang pecahan Rp 100.000 dipangkas tiga digit menjadi Rp 100. Sedangkan mata uang Rp 1.000 menjadi Rp 1. Darmin mengaku belum bisa memutuskan berapa Jumlah angka nol yang akan dipotong. “Belum bisa diputuskan sekarang berapa angka nol yang akan dikurangi, apakah tiga atau empat. Namun, hasil pembahasan akan diusahakan disampaikan ke pemerintah tahun ini.” kata mantan Dirjen Pajak Ini.

Deputi Gubernur BI. Budi Rochadi, menyatakan, setidaknya ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin melakukan penyederhanaan satuan nilai tukar. Pertama, kondisi ekonomi yang stabil. Kedua, Inflasi yang terjaga rendah, dan ketiga adanya Jaminan stabilitas harga.

Selain itu, dibutuhkan penarik-an uang yang beredar di masyarakat secara bertahap. “Hal yang paling sulit dilakukan dengan cepat dan mudah adalah sosialisasi kepada masyarakat.” kata Budi.indonesia pernah mengalam inflasi hingga 650 persen tahun 1965. Kala itu uang kertas rupiah bernasib tragis, sehingga pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan sanering rupiah, yaitu memotong tiga angka nol terakhir dari rupiah lama menjadi rupiah baru. Kebijakan Ini dituangkan dalam Penetapan Presiden (Penpres) No 27/1965 yang menjadikan Rp 1.000 (uang lama) = Rp 1 (uang baru).

Isu sanering rupiah sempat mencuat pada puncak krisis politik berbarengan dengan krisis moneter Indonesia tahun 1997-1998. Meskipun akhirnya sanering rupiah batal dilakukan, ternyata pemotongan angka Uga digit balik kembali dalam waktu 32 tahun.
Jika redenominasi rupiah dilaksanakan, seorang pegawai hanya akan menerima gaji ribuan rupiah. Pegawai yang kini ber gaji Rp 5 juta, nantinya hanya menerima Rp 5.000.

Redenominasi rupiah, yaitu memangkas tiga nol angka dalam nominal rupiah, dulu dikenal sebagai sanering rupiah. PerisUwa ini mengingatkan kita pada sanering 31 Desember 1965, saat Orde Lama-Soekamo memangkas nilai Rp 1.000 menjadi Rp 1. Caranya, uang lama rupiah glabak-karena dicetak dalam lembaran besar- yang beredar, umumnya bernilai Rp 50. Rp 100. Rp 500. Rp 1.000. Rp 5.000. dan Rp 10.000, ditarik BI. kemudian ditukar menjadi 5 sen untuk Rp 50. 10 sen untuk Rp 100. dan 50 sen untuk Rp 500. lalu Rp 1 untuk Rp 1.000. Rp 5 untuk Rp 5.000. serta Rp 10untuk Rp 10.000.

Harga naik

Para pengamat ekonomi menilai wacana redenominasi ini kontraproduktif terhadap stabilitas perekonomian mengingat Isunya cukup sensitif bila tanpa sosialisasi yang cukup. Kalangan pelaku industri keuangan lebih menyoroti besarnya ongkos yang dibutuhkan jika benar langkah redenominasi diberlakukan.

Ekonom Faisal H Basri kemarin menyatakan, jika redenominasi dilaksanakan akan menimbulkan dampak psikologi di masyarakat. Dalam pratlknya. pemotongan mata uang rupiah bisa menimbulkan ketidaksadaran bahwa nilai Rp 1 hasil redenominasi dianggap kecil sehingga harga-harga barang kebutuhan bisa dinaikkan menjadi Rp 2. misalnya.

Dampak lainnya, kata Faisal, kenaikan harga-harga barang akan membuat rupiah kembali melemah. “Saya memandang Udak ada positifnya pemikiran BI soal redenominasi Itu karena dampaknya sangat luas.” katanya.

Lebih baik, lanjut Faisal, pemikiran itu digunakan untuk meningkatkan produktifitas bangsa. Tidak perlu mengotak-atik hal-hal seperti itu. “Jika perekonomian tumbuh, rupiah secara bertahap Juga akan mendapatkan kepercayaan. Demikian juga jika pemerintah berhasil mengatasi inflasi,” katanya.

Hal senada dikemukakan mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, kemarin. Rizal berpendapat, redenominasi Udak diperlukan. Jika nilai mata uang diubah, misalnya Rp 1.000 menjadi Rp 1. hanya akan menguntungkan kelas menengah ke atas dari segi kepraktisan. “Jika sekarangmembawa uang sekoper. nantinya hanya sekantong kecil.” katanya.

Sementara untuk rakyat kecil bisa menambah kemiskinan. Sebab, uang yang semula Rp 1.000 menjadi Rp 1 akan membuat harga-harga lebih mahal. “Bukan redenominasi yang diperlukan saat ini karena membutuhkan biaya sagat besar. Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) mungkin Udak akan sanggup mencetak sehingga harus memerlukan pihak asing. “Pengalaman tahun 1950-an. karena Peruri Udak sanggup kemudian mencetak uang di Australia sehingga mudah dipalsukan.” katanya.

Menurut Rizal, lebih baik BI menyelesaikan urusan tingkat suku bunga yang termasuk tinggi di dunia, kemudian kembali membangun bank-bank nasional atau perekonomian Indonesia agar Udak dikuasai bank-bank asing.

Sedangkan ekonomm Aviliani menyatakan, Idenya mungkin bagus Jika nilai uangnya tetap sama. Tetapi, Jika direalisasikan biayanya akan terlalu besar dan perlu perencanaan panjang dan matang.Wacana redenominasi ditanggapi beragam oleh masyarakat. Abdullah (72), pegadang buah di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, misalnya, mengaku belum mendengar hal itu. Justru dia ingat di masa mudanya, sekitar tahun 1950-an ada pemotongan uang (betul-betul dipotong).

“Kalau dulu uang jadi kagak ada artinya. Uang Rp 1.000 turun jadi gopek (Rp 500). Ngeri banget. Orang banyak duit banyak yang gila. Apalagi yang kayak kita-kita begini, yang susah tambah melarat.” katanya kemarin petang.(wip71gn/Ant)

About bangsoy

Hidup Untuk berkarya

Posted on 4 Agustus 2010, in Pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: