Pekerjaan Membuatku Jauh dari Anakku

Sumber : Buku Mendidik Anak dengan Cinta/lh3

Seorang wanita muda, karyawati professional menangis. Pada hari itu, untuk pertama kalinya ia menitipkan bayi laki-lakinya yang berusia empat bulan di tempat penitipan bayi. Ibu muda itu sangat sedih sebab bayi laki-lakinya itu tampak amat tertekan ketika ditinggal di tempat penitipan bayi.

Ia tak bisa memusatkan perhatian pada pekerjaannya, pikirannya terus saja dipenuhi oleh bayangan bayi laki-lakinya yang selama ini hampir tak pernah berada jauh dari dirinya. Apa yang harus ia lakukan?

Pada umumnya orang akan berkata kepada ibu muda itu, “Apa yang membuatmu resah? Anakmu nanti juga akan tenang lagi dan jadi terbiasa.” Haruskah ibu muda tadi mengesampingkan saja pikiran-pikirannya tentang bayi laki-lakinya dan memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya serta teman-teman kerjanya?

Setelah ditelusuri, ternyata keresahannya bukan hanya karena ia dan bayinya sama-sama sulit berpisah. Ibu muda itu sebetulnya enggan bekerja lagi. Dalam kehidupannya, dia melihat banyak juga teman sekerjanya yang menitipkan anak-anak mereka yang masih kecil supaya mereka dapat bekerja. Suaminya juga menginginkan ia kembali bekerja sebab gajinya bisa jadi penghasilan tambahan yang lumayan. Atasannya pun ingin ia kembali bekerja, karena secara keseluruhan ia sudah cuti selama lima bulan.

Tampak jelas bahwa ibu muda ini tidak bahagia. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa melihat dan yakin apa yang ingin ia lakukan. Ia memutuskan berbicara langsung dengan atasannya untuk menjelaskan bahwa ia mengubah rencananya, meminta maaf atas perubahan rencana itu, dan mengucapkan terima kasih atas pengertian yang diberikan.

Setelah bernegosiasi dengan atasannya, dia memutuskan untuk tetap bekerja tapi sebagai karyawan paro waktu. Ia beruntung sebab ia sendiri adalah seorang yang cakap di bidang kerjanya dan suaminya berpenghasilan cukup, sehingga ia leluasa menentukan pilihannya sebagai karyawan paro waktu. Ia merasa amat lega karena ia menuruti kata hatinya, bukan menuruti berbagai ‘keharusan’ yang dibebankan kepadanya oleh lingkungan.

Tapi bagaimana bila saya tidak punya pilihan? Mungkin itulah yang ada di benak Anda selama ini, yang juga merupakan seorang ibu dari bayi Anda. Banyak perempuan yang suaminya berpenghasilan rendah (bahkan menganggur) atau para ibu yang menjadi orangtua tunggal, sama sekali tak punya pilihan selain bekerja, meskipun mereka sangat ingin memilih bisa berada bersama anaknya.

Yang perlu Anda lakukan adalah buat anak-anak Anda mengerti mengapa Anda harus bekerja dan mereka tidak dapat bersama Anda setiap waktu. Berdasarkan intuisinya, anak-anak akan mengetahui apa yang sebenarnya berlangsung. Jika secara intuitif anak-anak Anda tahu bahwa Anda lebih memilih bersama mereka tapi Anda benar-benar tak bisa mengambil pilihan itu, maka pengaruh buruk karena merasa ditinggalkan, tidak disayang tidak akan ada dan  mereka dapat menghargai diri mereka sendiri (self esteem).

About bangsoy

Hidup Untuk berkarya

Posted on 24 Juni 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: