Sejenak Bermuhāsabah!

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…” [QS. az-Zumar (39): 23]

Itulah salah satu kedudukan agung yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada orang-orang beriman, yaitu kedudukan yang akan meninggikan dan melambungkan jiwa, hingga mereka mampu meninggalkan nafsu (syahwat) kemanusiaan (yang melalaikannya)nya.

Yaitu kedudukan yang diperoleh seseorang karena menghadap langsung menemui Rabbnya dengan mentadabburi ayat-ayatNya, dengan penuh ketentraman dan pengagungan, sehingga ayat-ayat tersebut memenuhi relung-relung hati dan rongga-rongga persendiannya, menundukkan kepala dan menyungkur-kan wajahnya ke permukaan tanah untuk tepekur dalam ibadah dan sujud, seraya bermu-nājāt kepada-Nya dengan penuh ketundukan dalam memohon pertolongan-Nya dan dengan meneteskan air matanya sebagai bentuk taubat dan penyesalan.

Tatkala dia membaca salah satu ayat al-Qur’an, maka ayat tersebut sanggup menggetarkan hatinya, menyucikan jiwanya, merubah tabiat dan perangainya, serta mendorong-nya untuk berkesinambungan dalam berbuat taat dan senantiasa siap menyongsong perintah-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orangorang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila di-bacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertam-bahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnyalah mereka bertawakkal” [QS. al-Anfāl (8): 2]

Maka, meskipun syahwat dan fitnah dunia dengan beragam jerat dan tipu-daya menye-rangnya, semuanya tidak akan sanggup me-lumpuhkannya, bahkan satu-persatu akan bertekuk lutut di bawah telapak kakinya, dan dalam tatapan tajam sorot matanya yang pe-nuh keagungan jiwa dan ketegaran hati.

Bahkan dia akan memalingkan mukanya tanpa pernah menengok sedikitpun seraya terus membasahi lisannya dengan puja-puji kepada-Nya. Ini adalah buah munājātnya kepada Rabb-nya, yang sanggup menumbuhkan kekuatan dan tekad membara. Hatinya adalah hati yang bersinar kemilau laksana kilauan intan, tiada satu fitnahpun yang sanggup mengeruhkan-nya, dalam menjalani roda kehidupan.

Rasulullah Salallhu Alaihi Wasalam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ، -ذَكَرَ مِنْهُمْ- وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهٌ مِنَ الدَّمْعِ

“Ada tujuh orang atau golongan yang akan memperoleh naungan Allah pada saat dimana tidak ada naungan yang dapat dijadikan tempat berteduh, di antaranya- adalah seseorang yang berdzikir kepada Allah di keheningan malam dengan berurai air mata” [HR. al-Bu-khāri dalam Kitāb al-Adzān Bāb Man Jalasa Yantazhiru ash-Shalāh (2/715) No. 660, dan Muslim dalam Kitāb az-Zakāh Bab Fadhl Ikhfā’ ash-Shadaqah (2/715) No. 1031]

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمُ النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Ada dua mata (orang) yang tidak akan pernah terjilat oleh api neraka, yaitu mata seseorang yang berurai air mata karena takut kepada Allah, dan mata seseorang yang dipergunakan untuk berjaga malam saat berjuang di jalan Allah” [HR. at-Tirmidziy dalam Kitāb Fadhā’il al-Jihād Bāb Mā Jā’a fi Fadhl al-Haras (4/175) No. 1639]

Subhānallah…! Alangkah agung kedudukan-nya! Alangkah mulia sifatnya! Dan hal ini tiada lain merupakan wujud kedalaman iman dan kesucian hatinya!

Sesungguhnya kesensitifan dan ketenteraman hati, serta ketundukan dan pengagungan hanya kepada Rabbnya merupakan kedudukan tertinggi yang dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang tidak akan pernah terpengaruh oleh kepedihan dan kekerdilan jiwa orang-orang bodoh.

Dengan kondisi hati yang jujur, membara serta senantiasa disinari cahaya ilmu dan iman sebagaimana gambaran di atas, para shahabatpun sanggup memporak-porandakan benteng yang kokoh, maju bertempur dengan gagah berani tanpa gentar, menaklukan penjuru dunia, dan meninggikan panji tauhid, hingga singgasana Kisra dan Qaishar bertekuk lutut dalam dalam genggaman tangan mereka.

Alangkah berharapnya ummat ini akan datangnya seorang ‘alim Rabbani, yaitu seo-rang ‘alim yang ketika mendengar satu ayat al-Qur’an, maka hatinya tergetar, kedua matanya berurai air mata, merenungi kandung-annya dan konsekuen dengan segala tuntutannya.

Dan bukan sebaliknya, dia biarkan ayat tersebut berlalu begitu saja karena ingin mendengar ayat yang lainnya, baik karena hawa nafsu pribadinya atau karena ketidak-teguhannya.

Alangkah berharapnya ummat ini akan datangnya seorang da’i yang mau bekerja keras dalam mendidik, menyampaikan da’wah dan dalam mentarbiyyah. ampai-sampai, meskipun keheningan malam mulai merayap dan kelopak mata mulai meredup, namun dia tetap bersemangat dalam bermunājāt ke-pada-Nya, tafakkur menghadap-Nya seraya menengadahkan tangan ketundukan dan pengagungan kepada-Nya, serta memohon kepada-Nya akan datangnya pertolongan dan kemenangan, dengan diiringi derai air mata dan rintihan permohonan.

Dan alangkah berharapnya kita semua untuk dapat menitikkan air mata kejujuran yang dilandasi oleh kejujuran dan keteguhan iman, serta dilandasi keagungan jiwa untuk mengalahkan hawa nafsu. Hanya kepada Allah swt saja kita mengaduhkan segala kelemahan, kekerdilan jiwa dan kekotoran hati kita, ka-rena sesungguhnya:

إِذَا قَسَا الْقَلْبُ قَحَطَتِ الْعَيْنُ

“Apabila hati telah kotor dan keruh (karena dosa), maka air matapun menjadi kering (tidak bisa menangis)” (Renungan dari Ibnu al-Qay-yim dalam al-Fawā’id hal. 111)

Rasulullah SalallhuAlaihi Wasalam bersabda:

لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ: لَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا، وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً

“Seandainya kalian memahami apa yang telah kupahami (dengan pasti), niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit sekali untuk ter-tawa” [HR. al-Bukhāriy dalam Kitāb al-Raqā-’iq Bāb Law Ta’lamūna Mā A’lamu (11/319) No. 6485]

About bangsoy

Hidup Untuk berkarya

Posted on 19 Agustus 2009, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: