Penguasa dan Tanggungjawab

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan pada Hari Kiamat; nikmat di awal dan pahit di akhir,” sabda Rasulullah SAW.

Ada satu drama tentang penentuan seorang pemimpin yang perlu kita cermati bersama, fragmen ini diisi oleh Abu Bakar ash shidiq, Umar bin Khaththab dan para shahabat Rasul. Diriwayatkan, sebelum diminta menjadi khalifah menggantikan Rasulullah, Abu Bakar ra mengusulkan agar Umar lah yang menjadi khalifah. Alasan beliau, karena Umar ra. Adalah seorang yang kuat. Namun Umar ra menolaknya, dengan mengatakan “Kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu, wahai Abu Bakar.” Lalu Umar membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, yang kemudian diikuti oleh para shahabat lain dari Muhajirin dan Anshar. Dari peristiwa tersebut dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan seperti sesuatu yang menakutkan.

Mereka berusaha menghindarinya selama masih mungkin. Lihatlah hari ini, semua berlomba meraih kursi nomor satu di negeri ini. Seolah menjadi pemimpin adalah sesuatu yang “ringan” tanpa ada pertanggungjawaban kepada Allah swt. Padahal seorang pemimpin adalah layaknya penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban terhadap gembalaannya. Apakah seorang penggembala kambing tidak akan ditayai oleh pemilik kambing ketika kambingnya hilang satu? Apakah seorang pemimpin tidak akan diminta tanggungjawab atas hilangnya satu nyawa? Bagaimana dengan 100 nyawa di situ gintung? Jika Khalifah Umar bin Khaththab ra. Begitu gelisah memikirkan seekor keledai karena khawatir terperosok akibat jalanan rusak, bagaimana dengan para penguasa sekarang?

Meski ribuan ruas jalan rusak, bahkan sebagiannya rusak parah dan telah menelan korban jiwa, para penguasa seolah tidak peduli. Apakah sengaja menunggu korban lebih banyak lagi? Meski banjir sering datang menghampiri, para penguasa juga seperti tak ambil pusing. Hutan-hutan tak segera ditanami, bahkan ada yang terus digunduli, seolah menunggu korban lebih banyak lagi akibat wabah banjir yang tak terkendali.

Ironisnya, janji-janji manis untuk rakyat tetap mereka lontarkan di saat-saat kampanye pemilu tanpa rasa malu; seolah olah mereka menganggap rakyat buta dan tuli atas kelalaian, ketidakamanahan, bahkan kelaliman mereka terhadap rakyat selama mereka berkuasa.

Mereka tetap percaya diri untuk maju dalam pemilu demi sebuah mimpi: menjadi penguasa. Apakah mereka tidak mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin? Rasulullah saw. Jauh-jauh hari telah memperingatkan para penguasa yang lari dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk kepentingan rakyatnya, beliau bersabda: “Siapa saja yang diberi oleh Allah kekuasaan untuk mengurus urusan kaum Muslim, kemudian tidak melayani mereka dan memenuhi kebutuhan mereka, Allah pasti tidak akan melayani dan memenuhi kebutuhannya.” (HR Dawud)

Wajarlah jika Umar bin Abdul Aziz sampai mengurng di kamarnya begitu lama seraya menangis sesaat setelah umat membaiatnya menjadi khalifah, meski ia telah berusaha menolaknya. Yang selalu menghantui pikirannya tidak lain adalah betapa beratnya nanti ia mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah swt di hari akhir nanti. Adakah yang demikian juga dilakukan para pemimpin kita? Mereka bersuka cita dengan kemenangannya, seolah dia hidup hanya di dunia ini. bukankah kehidupan akhirat lebih kekal?

About bangsoy

Hidup Untuk berkarya

Posted on 14 April 2009, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: