Potret Buram Pendidikan Di Indonesia Potret Pendidikan Nasional (INDONESIA)

Bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global, pendidikan merupakan kunci utamanya. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya sumberdaya manusia yang buruk, akan secara pasti melahirkan masyarakat yang buruk pula. Untuk mengantar kepada visi pendidikan yang demikian, dan melihat realitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari harapan . Bahkan, jauh tertinggal dari negara – negara lain. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal : Paradigma Pendidikan Nasional Dalam UU Sisdiknas N0. 20 Tahun 2003 tampak jelas adanya dikotomi pendidikan agama dan umum yang bisa melahirkan pendidikan sekuler materialistik. Padahal sistem pendidikan yang dikotomis semacam ini telah terbukti gagal melahirkan manusia utuh (soleh) yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan dan perkembangan penguasaan sains dan teknologi. Dari sistem pendidikan ini, terdapat kesan yang kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu (iptek) yang dilakukan Depdiknas dipandang sebagai tidak berhubungan dengan Agama (Islam). Sementara pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan, justeru kurang tergarap secara serius. Kurikulum Agama (Islam) hanya ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimalis dan bukan menjadi dasar utama dari seluruh aspek kehidupan. Ini artinya, sangat jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai tujuan pendidikan nasional itu sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Karena itu, pendidikan yang sekuler materialistik ini memang bias melahirkan orang yang menguasai sains teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Namun, pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan pengetahuan keislaman. Betapa banyaknya lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, yang belajar dalam lingkungan pendidikan agama memang menguasai pengetahuan keislaman dan secara relatif kepribadiannya tergarap dengan baik, tetapi disisi lain terkesan buta terhadap ilmu-ilmu kehidupan modern. Apa yang terjadi selanjutnya? Sektor-sektor kehidupan modern seperti industri manufaktur, perdagangan, jasa, eksplorasi SDA, perbankan, dan lain-lain lebih banyak diisi oleh orang-orang yang mengerti pengetahuan Islam lebih banyak berkumpul di dunianya, seperti madrasah, dosen/guru agama, Depag, dan pada umumnya tidak mampu bersaing dan terjun pada sector-sektor modern. Dan ujung-ujungnya, merebaknya wabah korupsi di negeri ini karena akibat keterbelahan sistem pendidikan ini, termasuk berbagai penyakit sosial lainnya. Hal ini telah kita rasakan sampai saat ini. Biaya Pendidikan Mahal Selangit Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat agar anaknya dapat menikmati pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari Taman Kanak – Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) yang membuat masyarakat miskin tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kaum the haves (golongan kaya). Tentu tidak ada pilihan lain, kecuali putus sekolah. Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pendidikan sebagai pelayanan publik, tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35 – 40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong terjadinya privatisasi pendidikan. Apa akibatnya? Sekitar yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban pertama. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5-2005). Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan, utang pemerintah Indonesia periode Januari – Agustus 2010 tercatat sebesar Rp. 1. 654,9 triliun (media umat, edisi 48 3-23/12/2010). Artinya, jerat utang ini akan terus menjadi bagian dalam mengisi APBN, walaupun negeri ini berlimpah kekayaan alamnya. Dan tentu saja, dana pendidikan akan tetap terjerumus dengan utang yang besar itu. Karena itu, jika alasannya pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya bertolak di Indonesia. Di luar negeri, misalnya Jerman, Perancis, Belanda dan dibeberapa Negara berkembang lainnya, justru banyak sekolah/perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah, bahkan ada yang gratiskan biaya pendidikannya. Pendidikan yang berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Kewajiban pemerintahlah atas nama Negara untuk menjamin setiap warga negaranya untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ini vidi ideal pemerintahan dari segala strukturnya untuk mewujudkan peradaban yang memanusiakan dari sadar akan eksistensinya di muka bumi ini sebagai hamba Tuhan. Ancaman Komersialisasi Orang miskin dilarang sekolah! Dari tahun ketahun, tidak lama lagi, mungkin itu yang akan terjadi di Indonesia. Pasalnya sekolah semakin mahal. Untuk masuk TK sampai perguruan tinggi, apalagi unggulan, SBI, orang tua bisa menghabiskan jutaan sampai miliyaran rupiah. Memang, ada yang murah tetapi jangan ditanya kualitasnya, tentu apa adanya. Secara jujur, inilah yang disebut diskriminasi dalam dunia pendidikan kita. Kalau punya uang banyak, pasti bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sebaliknya, kalau terbatas dananya harus pasrah dengan kualitas pendidikan yang menyedihkan. Kenapa? Karena seharusnya pendidikan yang berkualitas harus berlaku sama bagi siapa saja yang punya uang atau tidak. Sebab pendidikan yang berkualitas merupakan asset negara yang bukan milik orang kaya. Sebenarnya inilah yang disebut pengapdosian kebijakan kapitalis dalam dunia pendidikan memang semakin menguat. Memang dalam sitem kapitalis, peran negara diminimalisasi, negara hanya sebagai regulator. Peran swasta pun dioptimalkan. Muncullah istilah-istilah “luhur” yang sebenarnya menimpa yaitu otonomi sekolah, otonomi kampus, dewan sekolah yang intinya negara lepas tangan terhadap dunia pendidikan. Lagi-lagi yang muncul adalah masalah pendanaan, sehingga harus banting tulang untuk mencari sumber pendanaan mulai dari buka bisnis sampai ujung-ujungnya menaikkan biaya pendidikan. Hasilnya, pendidikan benar-benar dikomersialisasikan melalui sumber dana masyarakat non – SPP yang itemnya bertumpuk. Intervensi Asing Meningkatnya kapitalisasi pendidikan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisasi. Sejak awal memang penjajah telah memformat sistem pendidikan menjadi sistem kapitalisme yang siap mengabdi kepada tuannya. Artinya, meskipun Indonesia sudah merdeka, tetapi subtansi sistem pendidikan yang sekuler materialistik yang dijalankan oleh para pemimpin yang memang dididik oleh mereka-mereka untuk mengalahkan imperialisme gaya baru. Selanjutnya, kebijakan-kebijakan kapitalistik akan muncul subur dan tidak bisa dilepaskan dari peran intelektual yang dididik oleh “Barat” masih mencengkeram kuat negeri ini. Seperti persaingan institusi-institusi pendidikan Indonesia denganPotret Buram Pendidikan Di Indonesia Potret Pendidikan Nasional (INDONESIA) Bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global, pendidikan merupakan kunci utamanya. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya sumberdaya manusia yang buruk, akan secara pasti melahirkan masyarakat yang buruk pula. Untuk mengantar kepada visi pendidikan yang demikian, dan melihat realitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari harapan . Bahkan, jauh tertinggal dari negara – negara lain. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal : Paradigma Pendidikan Nasional Dalam UU Sisdiknas N0. 20 Tahun 2003 tampak jelas adanya dikotomi pendidikan agama dan umum yang bisa melahirkan pendidikan sekuler materialistik. Padahal sistem pendidikan yang dikotomis semacam ini telah terbukti gagal melahirkan manusia utuh (soleh) yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan dan perkembangan penguasaan sains dan teknologi. Dari sistem pendidikan ini, terdapat kesan yang kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu (iptek) yang dilakukan Depdiknas dipandang sebagai tidak berhubungan dengan Agama (Islam). Sementara pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan, justeru kurang tergarap secara serius. Kurikulum Agama (Islam) hanya ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimalis dan bukan menjadi dasar utama dari seluruh aspek kehidupan. Ini artinya, sangat jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai tujuan pendidikan nasional itu sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Karena itu, pendidikan yang sekuler materialistik ini memang bias melahirkan orang yang menguasai sains teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Namun, pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan pengetahuan keislaman. Betapa banyaknya lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, yang belajar dalam lingkungan pendidikan agama memang menguasai pengetahuan keislaman dan secara relatif kepribadiannya tergarap dengan baik, tetapi disisi lain terkesan buta terhadap ilmu-ilmu kehidupan modern. Apa yang terjadi selanjutnya? Sektor-sektor kehidupan modern seperti industri manufaktur, perdagangan, jasa, eksplorasi SDA, perbankan, dan lain-lain lebih banyak diisi oleh orang-orang yang mengerti pengetahuan Islam lebih banyak berkumpul di dunianya, seperti madrasah, dosen/guru agama, Depag, dan pada umumnya tidak mampu bersaing dan terjun pada sector-sektor modern. Dan ujung-ujungnya, merebaknya wabah korupsi di negeri ini karena akibat keterbelahan sistem pendidikan ini, termasuk berbagai penyakit sosial lainnya. Hal ini telah kita rasakan sampai saat ini. Biaya Pendidikan Mahal Selangit Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat agar anaknya dapat menikmati pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari Taman Kanak – Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) yang membuat masyarakat miskin tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kaum the haves (golongan kaya). Tentu tidak ada pilihan lain, kecuali putus sekolah. Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pendidikan sebagai pelayanan publik, tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35 – 40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong terjadinya privatisasi pendidikan. Apa akibatnya? Sekitar yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban pertama. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5-2005). Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan, utang pemerintah Indonesia periode Januari – Agustus 2010 tercatat sebesar Rp. 1. 654,9 triliun (media umat, edisi 48 3-23/12/2010). Artinya, jerat utang ini akan terus menjadi bagian dalam mengisi APBN, walaupun negeri ini berlimpah kekayaan alamnya. Dan tentu saja, dana pendidikan akan tetap terjerumus dengan utang yang besar itu. Karena itu, jika alasannya pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya bertolak di Indonesia. Di luar negeri, misalnya Jerman, Perancis, Belanda dan dibeberapa Negara berkembang lainnya, justru banyak sekolah/perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah, bahkan ada yang gratiskan biaya pendidikannya. Pendidikan yang berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Kewajiban pemerintahlah atas nama Negara untuk menjamin setiap warga negaranya untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ini vidi ideal pemerintahan dari segala strukturnya untuk mewujudkan peradaban yang memanusiakan dari sadar akan eksistensinya di muka bumi ini sebagai hamba Tuhan. Ancaman Komersialisasi Orang miskin dilarang sekolah! Dari tahun ketahun, tidak lama lagi, mungkin itu yang akan terjadi di Indonesia. Pasalnya sekolah semakin mahal. Untuk masuk TK sampai perguruan tinggi, apalagi unggulan, SBI, orang tua bisa menghabiskan jutaan sampai miliyaran rupiah. Memang, ada yang murah tetapi jangan ditanya kualitasnya, tentu apa adanya. Secara jujur, inilah yang disebut diskriminasi dalam dunia pendidikan kita. Kalau punya uang banyak, pasti bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sebaliknya, kalau terbatas dananya harus pasrah dengan kualitas pendidikan yang menyedihkan. Kenapa? Karena seharusnya pendidikan yang berkualitas harus berlaku sama bagi siapa saja yang punya uang atau tidak. Sebab pendidikan yang berkualitas merupakan asset negara yang bukan milik orang kaya. Sebenarnya inilah yang disebut pengapdosian kebijakan kapitalis dalam dunia pendidikan memang semakin menguat. Memang dalam sitem kapitalis, peran negara diminimalisasi, negara hanya sebagai regulator. Peran swasta pun dioptimalkan. Muncullah istilah-istilah “luhur” yang sebenarnya menimpa yaitu otonomi sekolah, otonomi kampus, dewan sekolah yang intinya negara lepas tangan terhadap dunia pendidikan. Lagi-lagi yang muncul adalah masalah pendanaan, sehingga harus banting tulang untuk mencari sumber pendanaan mulai dari buka bisnis sampai ujung-ujungnya menaikkan biaya pendidikan. Hasilnya, pendidikan benar-benar dikomersialisasikan melalui sumber dana masyarakat non – SPP yang itemnya bertumpuk. Intervensi Asing Meningkatnya kapitalisasi pendidikan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisasi. Sejak awal memang penjajah telah memformat sistem pendidikan menjadi sistem kapitalisme yang siap mengabdi kepada tuannya. Artinya, meskipun Indonesia sudah merdeka, tetapi subtansi sistem pendidikan yang sekuler materialistik yang dijalankan oleh para pemimpin yang memang dididik oleh mereka-mereka untuk mengalahkan imperialisme gaya baru. Selanjutnya, kebijakan-kebijakan kapitalistik akan muncul subur dan tidak bisa dilepaskan dari peran intelektual yang dididik oleh “Barat” masih mencengkeram kuat negeri ini. Seperti persaingan institusi-institusi pendidikan Indonesia dengan institusi asing. Dalam hal ini, sangat jelas bahwa Indonesia masih di bawah asing. Artinya, intervensi ini terjadi melalui sistem negara yang sekuler dan para intelektualnya. Nah, asing biasa masuk melalui beberapa jalan seperti memberikan bantuan, pinjaman, beasiswa, hibah, penelitian, dan lain-lain. Berbagai pinjaman itu dikucurkan agar kebijakan perguruan tinggi tersebut dapat tunduk di bawah tekanan dan asing yang kelak para alumni AS ini akan menjadi “diplomat” yang notabene pelanjut imperialisme baru. Di Indonesia, jargon “pendidikan untuk semua” sering dilantunkan. Namun dibawah sistem demokrasi ini sering “dibajak” oleh pemilik modal, termasuk pemodal asing. UU Pendidikan yang dibuat sering malah berpihak kepada pendidikan mereka dan bukan pada rakyat banyak. Itulah sistem pendidikan dalam cengkeraman kapitalisme. institusi asing. Dalam hal ini, sangat jelas bahwa Indonesia masih di bawah asing. Artinya, intervensi ini terjadi melalui sistem negara yang sekuler dan para intelektualnya. Nah, asing biasa masuk melalui beberapa jalan seperti memberikan bantuan, pinjaman, beasiswa, hibah, penelitian, dan lain-lain. Berbagai pinjaman itu dikucurkan agar kebijakan perguruan tinggi tersebut dapat tunduk di bawah tekanan dan asing yang kelak para alumni AS ini akan menjadi “diplomat” yang notabene pelanjut imperialisme baru. Di Indonesia, jargon “pendidikan untuk semua” sering dilantunkan. Namun dibawah sistem demokrasi ini sering “dibajak” oleh pemilik modal, termasuk pemodal asing. UU Pendidikan yang dibuat sering malah berpihak kepada pendidikan mereka dan bukan pada rakyat banyak. Itulah sistem pendidikan dalam cengkeraman kapitalisme.

Pemimpin yang Rendah Hati

Muhammad saw adalah manusia istimewa. Para sahabat pun mengistimewakan Nabi mengingat kedudukannya yang agung dan pribadinya yang mulia. Namun beliau tidak mengistimewakan dirinya di hadapan mereka dan tidak pula ingin diperlakukan istimewa oleh mereka. Kerendahan hati sifat Nabi terekam dalam berbagai riwayat yang menyertai kehidupan beliau, tidak hanya terhadap sahabat, tetapi juga terhadap sesama manusia.

Saat berkumpul, misalnya, Nabi tidak mengizinkan para sahabat berdiri (menyambutnya) ketika beliau datang. Kata beliau, “Janganlah kalian berdiri demi menghormatiku sebagaimana orang-orang Persia (Iran) menghormati orang-orang yang dihormatinya.” Tulusnya cinta Nabi kepada mereka membuat beliau merasa tidak perlu diperlakukan melalui sikap penghormatan yang berlebih-lebihan.

Demi menjaga etika sekaligus menunjukkan bahwa beliau tidak lebih istimewa di hadapan para sahabat, Rasulullah menjaga betul sikapnya. Sewaktu duduk di suatu majelis atau perkumpulan, umpamanya, Nabi tidak pernah menjulurkan kakinya di antara mereka.

 

Ketika duduk, beliau duduk di mana saja tanpa pilih-pilih tempat. Nabi duduk sama rendah dengan para sahabatnya dan berdiri sama tinggi dengan mereka.

 

Abu Sa’id berkata, “Aku duduk bersama orang-orang muhajirin. Sebagiannya menutupi badan teman-temannya karena tidak memiliki baju. Rasulullah duduk di tengah-tengah mereka untuk menyertainya.”

Kasih sayang Rasul kepada para sahabat seolah memupus status kerasulan yang begitu tinggi menjulang. Diceritakan, dalam suatu perjalanan, Nabi dan para sahabat menyembelih seekor domba. Pembagian tugas pun tebentuk; ada yang mencari kayu bakar, mencuci, memasak, dan lainnya. Nabi melibatkan diri dalam salah satu pekerjaan; mencari kayu bakar.

Para sahabat merasa tidak enak jika seorang rasul Allah harus terlibat dalam pembagian pekerjaan seperti itu. Suatu pekerjaan sepele yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Apalagi, tanpa keterlibatan beliau, para sahabat masih leluasa untuk melakukannya.

Kata mereka, “Wahai Rasulullah, biarlah kami yang mengerjakannya.”

“Benar, tapi saya tidak ingin lain sendiri dibandingkan dengan sahabat-sahabatku. Sesungguhnya Allah swt tidak senang melihat seseorang berbeda dari sahabat-sahabatnya,” jelas Nabi dengan tenangnya. Tidak hanya itu, saat hendak melakukan sesuatu, beliau tidak suka memerintah sebelum beliau sendiri mengerjakannya.

Begitulah Nabi. Beliau adalah sahabat yang senantiasa menunjukkan nilai-nilai cinta terhadap sahabat-sahabatnya. Padahal, mudah saja bagi beliau memerintahkan mereka untuk mengerjakan pekerjaan tertentu tanpa membantunya sama sekali. Sebagai pemimpin, beliau melekat dengan tipe keteladanan, bukan tipe pemerintah.

Seorang ahli pengembangan diri terkemuka, Stephen Covey (2007), menjelaskan, meskipun kerendahan hati bukan sesuatu yang dapat diraba, kita mengenalnya di saat kita menyaksikannya, dan merasakannya di saat kita mendengarnya. Begitu pula dengan kerendahan hati sang manusia agung itu, Muhammad saw.

Rendah hati (tawadhu’) merupakan sifat yang sangat terpuji di sisi Allah dan sangat disenangi oleh orang lain. Rendah hati akan melahirkan berbagai sikap mulia seperti menghargai dan menghormati orang lain.

“Janganlah kalian memuji diri kalian (menyombongkan diri)….” (An-Najm [53] : 32)

“Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy-Syu’ara’ [26] : 215)

Menurut imam Syafi’i, sifat tawadhu’ akan melahirkan cinta kasih. Rendah hati membawa diri pada keselamatan, menciptakan keakraban, menghilangkan kedengkian dan perseng­ketaan. Buah dari sikap tazvadbu’ (rendah hati) adalah kecintaan, sebagaimana ketenangan adalah buah dari sikap gana’ah (kecukupan). Jika orang yang mulia mempunyai sikap rendah hati, maka ber­tambahlah kemuliaannya, sebagaimana orang hina yang sombong, maka bertambahlah kehinaannya.

Syaikh Khumais As-Said menjelaskan, orang yang berakal akan bersikap rendah hati bila melihat orang yang lebih tua darinya seraya mengatakan, “la lebih dulu dariku masuk Islam.” Bila melihat orang yang lebih muda is bersikap rendah hati dengan mengatakan, “Saya lebih dahulu berbuat dosa daripada la”. Tatkala melihat orang yang sebaya menganggapnya sebagai saudara. Rasa rendah hati itulah yang membuat ia tidak bersikap sombong terhadap saudaranya dan tidak menganggap remeh seseorang.

Ciri – Ciri Wanita Penghuni Neraka

Saudariku Muslimah

Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum musyrikin dan pelaku dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang darinya.

Setiap Muslimin yang mengerti keadaan Surga dan neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka, inilah fitrah.

Pada Kajian kali ini, kami akan membahas tentang neraka dan penduduknya, yang mana mayoritas penduduknya adalah wanita dikarenakan sebab-sebab yang akan dibahas nanti.

Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an tentang neraka dan adzab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)

Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”

Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.” Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di dalam
surat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)

Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya beliau bersabda : “Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” (Shahihul Jami’ 6618)

Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

Wanita Penghuni Neraka

Tentang hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.
Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhum :“ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal.
Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)

Saudariku Muslimah … .

Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni Surga.

Saudariku Muslimah … . Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.
Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)

Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.

Cukup kiranya istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

2. Durhaka Terhadap Suami

Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :
1. Durhaka dengan ucapan.
2. Durhaka dengan perbuatan.
3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang istri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.

Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang diperbolehkan syar’i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan dengan maksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah apabila seorang istri meminta di thalaq atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mengaku-aku telah dianiaya atau didhalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.

Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dan istri karena ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Sungguh jelek apa yang dilakukan istri seperti ini terhadap suaminya. Ingatlah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :“Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’i, pent.) maka haram baginya wangi Surga.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi serta selain keduanya. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 85)

Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal perbuatan yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang semisal dengan itu.

Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’i. Demikian pula jika sang istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang semisal dengan itu.

Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, melakukan puasa sunnah tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, mandi janabat, atau puasa Ramadlan.

Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah istri yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri maka ia dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya. (Dinukil dari kitab An Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As Sadlan halaman 23-25 dengan beberapa tambahan)

Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada jalan ke Surga karena memang biasanya wanita yang melakukan kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu.

Ketahuilah wahai saudariku Muslimah, jalan menuju Surga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada Surga yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang sabar menempuhnya.

Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.

Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.

3. Tabarruj

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al Mar’atil Muslimah halaman 120)

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tersebut.
Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .” (Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )

Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al Kabair halaman 131 : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”

Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita.

Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita.
Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.

Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.

Wahai saudariku Muslimah … . Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)
Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi kami hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.

Saudariku Muslimah … .

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda : “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)

Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya. Amin.
Wallahu A’lam bish Shawwab. (Dikutip dari tulisan Muhammad Faizal Ibnu Jamil, Judul asli Wanita Penghuni Neraka, MUSLIMAH/Edisi XXII/1418/1997/Kajian Kali Ini. Url sumber http://www.geocities.com/dmgto/muslimah201/nar.htm)

Mengapa Umat Islam Mundur ?

Satu waktu dipermulaan abad dua puluh seorang ulama dari Borneo, Muhammad Basyuni ‘Imran [dalam edisi Inggris, Muhammad Bisyooni ‘Umran] berkirim surat kepada Rasyid Ridha yang memintanya untuk meneruskan dua buah pertanyaan agar dijawab oleh sang pangeran kefasihan (prince of eloquence) Amir Syakib Arsalan. Pertanyaan pertama, mengapa kaum muslimin mengalami kelemahan dan kemunduran yang merata di seluruh dunia, baik dalam urusan agama maupun dunia. Pertanyaan kedua, apakah yang menyebabkan kemajuan bangsa Eropa, Amerika dan Jepang ? Apakah dimungkinkan bagi kita, kaum muslimin, untuk juga maju dan pada saat yang sama tetap komitmen dengan agama mereka ?

Maka lahirlah, kemudian, buku Limadza Ta-akhharal Muslimuna Wa Taqaddama Ghairuhum ?, Mengapa Kaum Muslim Mundur dan Yang Lainnya Maju ?. Buku ini kemudian menjadi sangat terkenal di dunia islam. Mengapa begitu terkenal ? Karena kompetensi dan terkenalnya sang penulis [Amir Syakib Arsalan], juga karena pertanyaan [tema] yang coba dijawabnya, dan jaringan majalah Al Manar yang dikelola oleh Rasyid Ridha. Dalam bahasa Indonesia terjemahan buku ini diterbitkan tahun 1954 oleh K.H. Munawwar Chalil, dengan beberapa tema [bab] tambahan yang disisipkannya.

Fenomena Dunia Islam
Kemunduran umat Islam adalah gejala yang merata di seluruh dunia Islam. Perbedaannya hanya pada derajat saja. Mengapa umat islam mundur ? Untuk menjawab pertanyaan ini perlulah diketahui terlebih dahulu apa yang menyebabkan majunya umat Islam di kurun awal. Syakib Arsalan menyatakan faktor keagamaan, Islam, menjadi faktor pendorong utama kemajuan bangsa arab dahulu. Bagaimana faktor Islam ini dioperasionalkan, kata kuncinya terletak pada iman [keyakinan] dan amal [aksi], yang tidak terpisahkan dalam islam. Hal ini menuntut pada umat untuk memenuhi kualifikasi yang menuntutnya ke gelanggang perjuangan, jihad. Karakter yang tidak mencukupkan identitas keislaman pada atribusi atau sekadar pada nama atau aktifitas kesalehan pribadi semata-mata.

Kontras terhadap karakter pejuang, jihad pendahulunya umat islam saat ini [awal abad kedua puluh] kehilangan gairah, semangat dan kesetiaan terhadap keimanannya. Hal ini digambarkan oleh Syakib Arsalan dalam beberapa fenomena berikut :

  1. Rendahnya semangat untuk memberi dan berkorban. Syakib Arsalan menggambarkan betapa pengorbanan yang diberikan oleh orang-orang Barat untuk membela negeri mereka, sebagaimana terjadi dalam perang dunia I. Jutaan orang tewas. Demikian pula dengan pengorbanan harta, jutaan dolar hilang untuk membela kepentingan bangsa mereka. Syakib Arsalan mengkontraskan itu semua dengan pengorbanan yang diberikan oleh umat Islam untuk membela negeri mereka, saudara mereka.
  2. Pengkhianatan para elite. Perjuangan umat islam dalam menghadapi bangsa penjajah seringkali mentah atau gagal atau terintangi karena pengkhianatan elite mereka dalam perjuangan, baik elite kepemimpinan maupun elite intelektual, ulama.

Mengapa Umat Islam Mundur ?
Berdasarkan fenomena-fenomena di atas Syakib Arsalan mencatat beberapa penyebab kemunduran umat Islam.

  1. Kebodohan. Bukan cuma kebodohan yang sesungguhnya, tetapi juga pengetahuan setengah-setengah yang dimiliki oleh beberapa kalangan umat. Bahkan pengetahuan setengah-setengah lebih berbahaya dari kebodohan.
  2. Karakter [akhlaq], moralitas yang rendah. Kemajuan memiliki akhlaq atau karakter yang mendukungnya semisal, keberanian, keteguhan, kesabaran [determinasi diri], mengembangkan kapasitas intelektual.
  3. Degradasi yang menginfeksi para elite, penguasa. Sikap despotik, menganggap rakyat sebagai makhluk yang diciptakan bagi mereka, sewenang-wenang.
  4. Rasa takut, pengecut dan rendah diri, perasaan tidak berdaya, sekedar menjadi objek tertuduh [victims].


Responsi Umat Islam Terhadap Kemajuan Barat

Syakib Arsalan kemudian memetakan dua responsi ekstrem yang diberikan oleh sebagian kalangan umat Islam dalam menyikapi kemajuan Barat. Profil pertama adalah mereka yang ultra-modern, zaahid [ingkar-pembantah], yang mengingkari sejarah dan identitas kultural mereka, yang ingin mengesampingkan agama dari kehidupan sosial dan kemajuan, yang ingin melikuidasi agama dari kehidupan sosial politik, yang ingin membangun wilayah itu menjadi wilayah netral agama. Profil kedua adalah  mereka yang menganut konservatisme ekstrem [jamid, enggan berubah], yang menolak ilmu pengetahuan semata-mata karena ia adalah produk orang kafir, yang bersikap fatalistik, yang menutup diri dan mencukupkan dengan warisan tradisi semata-mata.

Kedua profil diatas membawa sikap yang tidak tepat. Syakib Arsalan membantah sikap pertama dengan mengajak mereka untuk memikirkan lebih dalam fenomena sejarah bangsa-bangsa yang maju adakah mereka melepaskan identitas religius [keagamaan] dan kultural mereka. Eropa [dengan negara-bangsa yang beraneka], Jepang justru menegaskan dan memelihara identitas keagamaan dan kultural mereka. Untuk membantah sikap kedua, Syakib Arsalan mengutip ayat-ayat yang mengajak untuk optimis, bekerja, dan menghilangkan sikap fatalistik dalam kehidupan. Ia juga mengingatkan sikap konservatisme ekstrem akan memuluskan para penjajah untuk menduduki negeri mereka.

Apakah Mungkin Umat Islam Maju Sekaligus Bertahan Dalam Islam ?
Syakib Arsalan mengafirmasi secara positif kemungkinan ini. Jepang bisa menjadi pelajaran. Islam sendiri mampu memberikan dorongan dan motivasi internal untuk meraih kemajuan, sebagaimana dulu ia pernah meraih kejayaan. Bagaimana memulainya ? Atau darimana memulai langkah menuju kemajuan itu ? Syakib Arsalan menjawab terletak pada semangat untuk memberi dan berkorban. Ini adalah akar awal untuk memulai, yang mungkin agak mengejutkan; mengapa bukan dimulai dari meraih ilmu pengetahuan modern terlebih dahulu.

Rujukan
Mengapa Kaum Muslim Mundur. Al Amir Syakib Arsalan. Penerbit Bulan Bintang, 1992 [cet 1. 1954].
Our Decline, Its Causes and Remidies. Amir Shakib Arsalan. Islamic Book Trust, Kuala Lumpur. 2005.

TINGGALKAN ‘POLITIK TIPU-TIPU’, KEMBALILAH KE POLITIK ISLAM

[Al-Islam 508] Setelah sempat ‘memanas’ dan menjadi berita utama dalam media massa dalam beberapa bulan lalu, Skandal Century sejak beberapa pekan lalu sesungguhnya sudah mulai ‘mendingin’, ditimpa oleh berbagai persoalan/kasus baru yang terus-menerus muncul atau sengaja dimunculkan seperti kasus Susno, isu terorisme, dll.

Sebagaimana kasus-ksus serupa sebelumnya yang melibatkan penguasa, pejabat atau para pemilik modal besar (Skandal BLBI, misalnya), Skandal Century dipastikan akan menguap begitu saja. Tanda-tanda ke arah upaya ‘mempetieskan’ Skandal Century ini sudah mulai tampak. Hal itu antara ditandai antara lain oleh ‘pengunduran’ Menkeu Sri Mulyani karena ditarik menjadi direktur operasional Bank Dunia, lalu disusul dengan pembentukan sekretariat gabungan oleh partai-partai koalisi Pemerintah.

Skandal pengucuran dana talangan kepada Bank Century pertama kali mencuat sekitar satu setengah tahun lalu ketika KPK meminta BPK melakukan audit atas bailout Century itu. Sejak saat itu bergulir serangkaian drama politik berseri yang mementaskan lakon jalannya perpolitikan di negeri ini.

Begitu hasil audit BPK atas pengucuran dana talangan kepada Bank Century keluar, drama Century pun makin ramai sampai akhirnya dibentuk Pansus Century di DPR. Perdebatan di Pansus yang disiarkan langsung juga memperlihatkan bagaimana kepentingan masing-masing partai begitu menonjol, ditambah lagi kepentingan pribadi. Proses di Pansus banyak menghamburkan waktu dengan memperdebatkan hal-hal yang tidak prinsip.

Di tengah perjalanan Pansus yang disorot oleh seluruh mata rakyat Indonesia itu terjadi pergantian anggota Pansus. Lagi-lagi tampak begitu menonjol bagaimana kepentingan partai harus dikedepankan dan semangat kritis untuk mengungkap kasus segamblang-gamblangnya harus dikorbankan. Proses seterusnya di Pansus juga tetap menunjukkan bagaimana kepentingan elit masih menjadi faktor penentu.

Di lain pihak, Pemerintah tiba-tiba mempersoalkan kembali kasus pajak Grup Bakrie, mengungkap kasus-kasus korupsi oknum-oknum aktivis partai yang terlihat “kritis” dalam Pansus, yang dari segi timing (waktu), baru diungkap saat itu, bukan dari sebelum-sebelumnya. Dengan mudah hal itu ditangkap oleh masyarakat sebagai reaksi untuk menjinakkan lawan politik.

Semua itu akhirnya terkesan untuk bisa menaikkan posisi tawar dalam melakukan negosiasi politik. Di situlah akhirnya terjadi ‘politik dagang sapi’.

Di antara puncak drama Century itu adalah ketika Sri Mulyani ‘mengundurkan diri’ dari jabatan sebagai menteri keuangan dan akan berpindah menduduki jabatan direktur operasional di Bank Dunia. Sebagian kalangan memahami bahwa itu adalah exit strategi (jalan selamat) bagi Sri Mulyani tanpa dia harus kehilangan muka secara total. Pasalnya, dengan menduduki jabatan direktur Bank Dunia, tentu sulit bagi KPK untuk memeriksa dan memproses hukum lebih jauh atas Sri Mulyani.

Sehari setelah pengunduran Sri Mulyani dibentuk sekretariat gabungan partai koalisi. Aburizal Bakrie yang saat ini menjadi ketua Partai Golkar menjadi ketua hariannya.

Lagi-lagi dalam proses pengunduran Sri Mulyani dan terbentuknya Setgab ini kuat tercium aroma kepentingan.

‘Politik Tipu-tipu’

Rangkaian drama politik di atas sekali lagi menunjukkan dengan kuat kepada kita bahwa belum ada perubahan paradigma politik di negeri ini. Padahal reformasi sudah berjalan lebih dari satu dekade. Paradigma politik yang belum berubah sama sekali itu adalah bahwa politik identik dengan kekuasaan. Semua energi politik seakan ditumpahkan demi meraih kekuasaan dan kemudian mempertahankannya. Jalannya semua proses itu dihela oleh kepentingan. Kepentingan tetap dijadikan panglima. Karena itu, selama kepetingan menghendaki, maka yang semula lawan bisa dalam sekejap menjadi kawan, dan sebaliknya. Bahwa kepentingan tetap menjadi penentu itu juga terungkap dalam curhatnya Sri Mulyani pada acara kuliah umum tentang “Kebijakan Publik dan Etika Publik” di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 18/5. Ia menjelaskan mengapa mundur dari jabatan menteri keuangan dan menerima jabatan direktur operasional di Bank Dunia. Ia mengatakan, “Ini adalah suatu kalkulasi bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik, tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik di mana perkawinan kepentingan itu sangat dominan. Banyak yang mengatakan ini adalah kartel, saya lebih suka mengatakannya kawin, walaupun jenis kelaminnya sama.”

Curhat Sri Mulyani itu menandaskan bahwa kepentingan masih begitu menonjol dalam proses politik dan kebijakan di negeri ini. Apalagi dalam sistem demokrasi yang prosesnya memerlukan biaya yang sangat besar. Akhirnya, kepentingan politik itu berkolaborasi dengan kepentingan para cukong yang bisa mengongkosi proses politik demokrasi itu. Muncullah penguasa yang lebih mengutamakan kepentingan para pemilik modal serta kepentingan politisi dan kelompoknya dengan menjadikan kepentingan masyarakat banyak sebagai komoditasnya.

Ironisnya, semua itu bukan hanya terjadi di pusat, tetapi juga menjalar dan merata di daerah-daerah. Lihat saja, lebih dari seratus kepala daerah dan pejabat daerah yang notabene hasil dari proses demokrasi sudah antre untuk diproses hukum oleh arapat karena kasus korupsi. Lihat pula bagaimana mereka berupaya mati-matian agar tampuk kekuasaan di daerah itu tidak berpindah dari tangan mereka. Untuk itu maka istri, anak, kerabat atau orang-orang dekat mereka pun dicalonkan untuk mejadi pengganti mereka. Tentu saja peran para cukong dalam proses itu akhirnya menjadi demikian besar.

Karena kepentingan yang menjadi penentu, proses-proses hukum pun senantiasa pilih kasih. Jika pelakunya para pejabat, mereka yang dekat dengan kekuasaan, atau para pemilik modal, maka akan dibiarkan atau setidaknya prosesnya akan berjalan begitu lambat. Ketika masyarakat lupa atau tidak lagi memperhatikannya, kasusnya pun dipetieskan. Penanganan kasus Century pun diindikasikan akan menjadi seperti itu. Itulah politik ‘politik tipu-tipu’ ala demokrasi. Politik semacam ini tentu harus segera ditinggalkan.

Politik Islam

Semua itu tentu menyalahi tuntunan Islam. Dalam Islam politik adalah bagaimana memelihara urusan rakyat. Politik mengurus rakyat itu adalah tugas para nabi dan dilanjutkan menjadi tugas setiap khalifah, pejabat dan pemimpin masyarakat pasca Nabi saw. Karena itu, Islam menggariskan bahwa tugas pemimpin adalah mengurusi kepentingan rakyat. Nabi saw. bersabda:

«فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

Pemimpin yang menangani urusan masyarakat adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pemimpin, termasuk para pejabat dan politisi, seperti diungkapkan Nabi saw. di atas, bertanggung jawab mengurusi urusan dan kepentingan rakyat laksana seorang penggembala mengurusi gembalaannya. Karena itu, tugas pemimpin itu adalah merealisasikan kemaslahatan bagi rakyat dan menolak kemadaratan dari mereka; bukan mengedepankan kepentingannya sendiri, kelompoknya atau pemilik modal, apalagi pihak asing.

Sebagai agama paripurna, ketika mensyariatkan bahwa kepemimpinan dan jabatan adalah demi mengurusi urusan dan kemaslahatan rakyat, Islam juga memberikan serangkaian hukum yang harus dijadikan panduan dan dipegang teguh untuk merealisasikan sekaligus menjamin terpeliharanya kepentingan rakyat itu. Semua itu terangkum dalam sistem syariah baik di bidang pemerintahan seperti kewajiban muhasabah (kontrol), hukum-hukum pemerintahan, dsb; di bidang ekonomi mulai hukum tentang kepemilikan dan pengelolaan kepemilikan itu, hukum-hukum tentang moneter, hukum-hukum tentang Baitul Mal, dsb; maupun dalam bidang sosial, kebudayaan, politik luar negeri dan sebagainya.

Islam tidak membiarkan pembuatan hukum dan aturan diserahkan kepada manusia sehingga menjadi komoditi tawar-menawar berdasarkan kepentingan. Islam telah menetapkan hukum-hukum pengelolaan negara dan urusan masyarakat yang harus dijadikan pandungan dan dipedomani oleh setiap penguasa, pejabat, pemimpin dan selurun rakyat. Untuk menjamin pelaksanaan hukum-hukum itu secara baik, Islam menetapkan muhasabah (kontrol/koreksi) terhadap penguasa sebagai kewajiban bagi masyarakat baik secara individual maupun kolektif. Islam memberikan ruang yang sedemikian luas bagi semua itu sebagaimana bisa dilihat dalam hukum-hukum politik dan pemerintahan Islam secara rinci.

Islam juga menetapkan adanya pertanggungjawaban di akhirat atas pemimpin. Setiap pemimpin akan Allah mintai pertanggungjawaban atas bagaimana dia mengurusi kepentingan rakyat yang Allah bebankan di atas pundaknya. Jika pemimpin sempurna menunaikan tugasnya mengurusi kepentingan rakyatnya, maka dia akan mendapat tempat di surga bersama para nabi dan rasul. Sebaliknya, jika dia menipu rakyatnya maka dia akan ditandai sesuai dengan kadar penipuannya. Nabi saw. bersabda:

« لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غَدْرِهِ أَلاَ وَلاَ غَادِرَ أَعْظَمُ غَدْرًا مِنْ أَمِيرِ عَامَّةٍ »

Setiap pengkhianat memiliki panji pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar pengkhianatannya. Ingatlah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari (pengkhianatan) seorang pemimpin masyarakat (HR Muslim).

Wahai Kaum Muslim:

Fakta-fakta yang ada di depan kita telah jelas sekali menunjukkan bahwa sistem politik demokrasi sebagai bagian dari ideologi Kapitalisme hanya melahirkan para politisi dan politik yang mengabdi pada kepentingan politik politisi, kelompoknya dan para pemilik modal bahkan pihak-pihak asing. Sebaliknya, Islam–yang kita telah bersaksi untuk menjadi Muslim secara total saat kita mengucapkan dua kalimah syahadat–telah memberikan tuntunan, aturan dan sistem yang menjamin para pejabat, pemimpin dan politisi akan senantiasa memperhatikan dan mengutamakan kepentingan rakyat. Lebih dari itu, Allah menjamin bahwa Islam yang Dia turunkan untuk menjadi pedoman hidup kita akan memberikan kehidupan dan kerahmatan bagi seluruh alam. Karena itu, sudah saatnya dan sudah mendesak bagi kita untuk meninggalkan sistem politik sekular demokrasi, kemudian menggantinya dengan sistem Islam yang telah Allah SWT turunkan.

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ[

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang member kalian kehidupan (QS al-ANfal [8]: 24).

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [http://hizbut-tahrir.or.id/2010/05/26/tinggalkan-politik-tipu-tipu-kembalilah-ke-politik-islam/]

Indonesia Hadapi Krisis, Agama Harusnya Jadi Solusi

Sumber : Kompas.com

Saat ini, Indonesia divonis terjangkit penyakit berat, namanya krisis. Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyatakan setidaknya ada tiga penyakit yang teridentifikasi dari Indonesia.

Pertama, Indonesia mengalami krisis karena neracanya tak seimbang. Penyakit ini dapat diperbaiki secara teknis. Kedua, krisis terjadi karena tatanan yang tidak demokratis sehingga perlu reformasi di segala bidang. Penyakit ini telah dilakukan mulai tahun 1998 meski tak kunjung selesai. Ketiga, krisis disebabkan kerusakan tatanan sehingga harus mengagendakan pergantian sistem.

Penyakit ini menjadi begitu sulit diobati karena berkaitan dengan mental masyarakat, termasuk orang-orang kelas atasnya. Namun, ironis karena sebetulnya bangsa Indonesia terkenal dengan kehidupan religius yang berakar dan bertumbuh kuat dalam kehidupan masyarakatnya.

Lantas, dimana kontribusi agama, khususnya Islam, dalam penyelesaian masalah konkrit yang sedang terjadi pada negara ini? Ketua Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia Luthfi Zuhdi mengatakan kontribusi agama harusnya disadari sebagai perbaikan mendasar bagi permasalahan yang berkembang di Indonesia, seperti kejujuran dan tanggung jawab mengemban amanah.

“Tapi kalau kita lihat memang nilai-nilai Islam sebetulnya sudah jauh dari kehidupan umat Islam sekarang ini,” ujar Luthfi dalam seminar bertajuk ‘Islam, Radikalisme Beragama dan NKRI’ di FIB UI Depok, Kamis (28/8). Menurut Luthfi, nilai-nilai luhur Islam dapat diamati dari masa Umar bin Abdul Azis dimana keadilan ditegakkan dan tingkat kesejahteraan pada masa itu merata. Satupun rakyatnya tak ada yang mau menerima zakat.

“Bukan karena mereka sudah kaya semua tapi mereka secara batin sudah merasa terpenuhi semua,” tandas Luthfi. Jika masyarakat Islam benar-benar mewujudkan esensi ajaran Islam mulai dari dirinya sendiri, maka Luthfi mengamini bahwa kehidupan yang sejahtera dalam masyarakat akan tiba.

Saatnya kembali ke Islam

Assalamu ‘alaikum waramatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda ungkapkan sebenarnya dirasakan oleh semua pengajar di negeri kita. Mereka bertanya-tanya, kenapa kita selalu diajari berbagai teori ilmu pengetahuan dari orang kafir? Apakah memang tidak ada ilmuwan muslim yang maju dan bisa dijadikan ikutan?

Tentu saja jawabnya ada, bahkan sangat ada. Tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa sebenarnya fenomena semacam ini perlu kita lihat secara lebih luas. Tidak hanya dari satu sudut pandang saja.

Dunia Islam adalah dunia yang dijajah oleh barat selama ratusan tahun. Dan penjajahan itu bukan hanya sekedar pendudukan secara militer. Penjajahan itu sampai juga ke level ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan.

Dulu sebelum Portugis mendarat di negeri kita, negeri kita ini adalah negeri Islam, di mana para sultan muslim menjalankan negeri ini dengan menerapkan segala khazanah peradaban besar dunia Islam, termasuk ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan.

Ketika kemudian parade penjajah itu mulai menguasai negeri ini, maka mereka pun masuk juga ke dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan. Belanda getol sekali membangun kampus dan sekolah.

Dan peninggalan mereka sampai hari ini masih ada, meski kita sudah merdeka, bahkan kita juga sudah punya pemerintahan sendiri, punya lagu kebangsaan sendiri, punya wilayah, rakyat, bendera dan diakui oleh PBB.

Tapi yang terjadi justru malah penjajahan di dunia pendidikan tetap masih berlangsung. Nyaris semua ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi masih saja ‘dijajah’, sehingga yang terjadi memang ‘broken link’ yang luar biasa dahsyat, antara generasi Islam dan sisa peradaban masa lalunya.

Memutus Rantai Peradaban lewat Penjajahan Bahasa

Contoh paling sederhana dari masih berlangsungnya penjajahan adalahkenyataakn bahwa bangsa kita yang muslim ini kita tidak bisa bahasa Arab. Inilah hasil penjajahan yang tidak bisa dipungkiri. Rupanya para penjajah tahu betul bahwa kunci untuk memutus mata rantai peradaban Islam dengan generasi mudanya adalah dengan menghilangkan bahasa Arab dari dunia Islam.

Di negeri Islam yang dalam kesehariannya sudah berbahasa Arab, para penjajah menghidup-hidupkan bahasa Arab ‘pasar’, atau yang lebih kita kenal dengan bahasa ‘ammiyah. Kita kenal ada ‘ammiyah Mesir, ‘ammiyah Saudi, ‘ammiyah Yaman, Sudan, Irak, Maghrib dan seterusnya. Nyaris satu sama lain tidak bisa saling komunikasi.

Dan yang pasti, kalau memakai bahasa ‘ammiyah itu, dijamin kita tidak mampu mengerti Al-Quran, Sunnah, dan literatur keIslaman lainnya. Coba saja para TKI Timur Tengah itu disuruh membaca kitab tafsir, pasti mereka geleng-geleng kepala.

Sebaliknya, di negeri muslim lain yang belum semua rakyatnya berbahasa Arab, mereka menghapus semua pelajaran bahasa Arab dari kurikulum pendidikan.

Dan meski sang penjajah yang asli sudah pergi, dan kita merdeka selama bertahun-tahun kemudian, penguasa negeri ini sama sekali tidak pernah mau memasukkan kurikulum pendidikan bahasa Arab ke dalam pelajaran sekolah. Sebaliknya, kurikulum bahasa Inggris justru diajarkan mulai dari SD sampai perguruan tinggi.

Aneh bin ajaib. Sebuah negeri yang mengaku sebagai negeri Islam, masih mempertahankan tradisi yang dibawa penjajah.

Maka terjadilah putusnya jalur peradaban. Kita yang lahir setelah penjajahan, tidak mengenyam sistem pendidikan Islam. Semua kurikulum datang dari barat, bahkan termasuk suatu yang di barat sana sudah dianggap sampah, ternyata kita masih saja memakainya.

Di dalam otak para penguasa di negeri ini sudah tertanam doktrin utama, yaitu ilmu pengetahuan hanya ada di barat. Dan inilah titik pangkal kelemahan.

Belajar Dari Mentalitas Jepang

Tapi mentalitas sebagai ‘bangsa terjajah’ itu tidak terjadi di Jepang. Meski pernah diluluh-lantakkan dengan bom atom, bangsa Jepang tetap merdeka cara berpikirnya, mereka bisa cepat belajar dan bertekad untuk mandiri.

Mereka mengirim mahasiswa dan pelajar ke Barat, bukan untuk menjadi ‘penyembah’ barat, tetapi justru untuk ‘mencuri’ ilmu pengetahuan mereka. Dan ‘pencurian’nya bukan saja ilmu, tapi mereka berhasil mendatangkan juga para profesor dan sumber-sumber ilmu pengetahuan barat ke Jepang.

Tidak seperti bangsa kita, konsepnya si Jepang ini matang sekali. Yang diimpor oleh Jepang bukan produk teknologinya juga bukan hafalan teori-teorinya, tetapi sumber-sumber asal-usul ilmunya. Pemerintah Jepang sangat terbuka dengan riset dan pengembangan teknologi itu.

Apa yang di Amerika masih berupa proposal pengembangan yang belum disetujui pendanaannya, di Jepang langsung dibiayai dan dijalankan. Inilah bentuk ‘penjajahan balik’ Jepang kepada Barat. Akibatnya, teknologi lebih berkembang di Jepang. Bahkan Jepang menjadi pengekspor produk teknologi ke Barat. Amerika malah mengimpor mobil, motor, dan barang elektronik dari Jepang.

Bandingkan dengan Indonesia, alih-alih belajar teknologi dan membawa pulang ilmunya, bangsa kita malah lebih tertarik belajar ilmu yang sosial dan budaya. Lucu juga, Amerika dan Barat terkenal paling tidak punya kepekaan sosial dan berbudaya rendah, karena tangannya masih berlumur darah akibat penjajahan ratusan tahun, kok kita malah belajar budaya dan moral dari mereka. Apa yang menarik?

Tokoh-tokoh sekuler di negeri kita malah lebih gila lagi. Bagaimana tidak, mereka malah mengirim para mahasiswa muslim untuk belajar ‘agama Islam’ kepada para yahudi kafir di Barat. Padahal para yahudi barat itu terkenal perusak dan penghina agama Islam, kok bisa-bisanya mahasiswa dikirim untuk belajar kepada para pembenci Islam?

Maka kalau sepulang dari Amerika dan Barat itu mereka jadi ‘tukang bikin gara-gara’, bikin sensasi tidak jelas ujung pangkalnya, wajar saja. Lha wong ngajinya sama yahudi laknatullah.

Praktis dari segi pengembangan teknologi, nyaris tak ada satu pun ilmu pengetahuan yang kita ambil dari barat. Kita tetap saja jadi pengimpor produk teknologi dari mereka. Mulai dari kendaraan bermotor, sampai barang elektronik kecil-kecil, kita impor semuanya.

Kita tidak pernah mandiri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk juga tidak pernah mengembangkan kurikulum pendidikan sendiri.

Akibatnya, tokoh-pokoh ilmu pengetahuan yang kita kenal juga itu-itu saja, semuanya hasil jiplakan total dari Barat.

Pengembangan Dunia Pendidikan Yang Asli

Kita semua sepakat bahwa kalau kita mau membangun bangsa ini, tentu kita harus mulai dari membangun dunia pendidikan. Selagi dunia pendidikan kita amburadul, maka selama itu punya pendidikan kita akan acak-adul.

Kurikulum pendidikan kita ini perlu diarahkan secara lebih tegas, terutama dari sisi filosofinya. Apakah kita hanya sekedar mau bicara formalitas, ataukah kita mau bicara kenyataan di lapangan?

Jadi penggalian kepada akar-akar sistem pendidikan dan ke mana arahnya, adalah merupakan hal yang prioritas. Dalam dalam pada itu, sebenarnya kita bisa menggali akar ilmu pengetahuan itu dari sumber peradaban besar Islam.

Sayangnya ya itu tadi, kita ini sudah dan masih dijajah oleh Barat. bahkan bahasa Arab pun kita tidak menguasai. Jadi bagaimana kita mau menggali ilmu pengetahuan dari peradaban Islam, kalau bahasanya saja tidak kita pahami.

Alhamdulillah, kami sempat mengenyam pendidikan di Universitas Islam Al-Imam Muhammad Ibnu Suud, Kerajaan Saudi Arabia. Dalam salah satu mata kuliah, kami diajarkan mata kuliah dasar-dasar pedagogik (ushulut tarbiyah).

Menarik sekali, karena teori-teori yang diajarkan sama sekali tidak menyebut teori orang barat. Kami malah diajak berkenalan dengan ilmuwan muslim besar semacam Ibnu Khaldun, Al-Ghazali, dan lainnya. Di mana sumber acuannya jelas, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Bukan teori-teori sekular Barat yang rancu.

Salah satu teori pendidikan Islam yang masih sangat melekat adalah bagaimana hubungan antara guru dan murid dibentuk sedemikian rupa, sehingga ada sisi keberkahannya. Sesuatu yang barangkali menjadi ‘aneh dan asing’ buat anda yang terbiasa dengan teori pendidikan barat.

Dan kalau mau dibanding-bandingkan, sejarah peradaban Islam yang gemilang tentu tidak akan pernah ada, bila tidak ada generasi yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang maju dan modern, yaitu sistem pendidikan Islam.

Sayangnya, sistem ini terkubur di dalam tanah, dan kita nyaris tidak pernah lagi bisa menemukannya. Semua adalah akibat bahwa kita adalah korban dari sistem pendidikan barat itu sendiri. Yang sejak awal memang ingin memastikan agar kita tidak bisa menemukan ‘harta terpendam’ berupa sistem pendidikan yang sangat maju di dunia Islam. Caranya dengan membuat kita tidak mengerti bahasa Arab.

Tapi, begitu anda melek bahasa Arab, maka di depan anda terbentang sebuah dunia maha luas yang berisi khazanah kekayaan intelektual Islam yang selama ini terpendam. Ada sekian banyak judul kitab yang berbicara tentang berbagai ilmu pengetahuan Islam, termasuk ilmu pendidikan dalam Islam.

Kalau menunggu terjemahan, paling-paling anda hanya bertemu dengan bukunya Abdullah Nasih Ulwan yang judul terjemahannya menjadi “dasar-dasar pendidikan Islam.” Padahal buku itu hanya mengulas sedikit saja tentang dunia pendidikan Islam. Di balik itu, masih ada begitu banyak tulisan, buku, makalah dan karya besar tentang sistem pendidikan Islam yang anda rindukan itu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum waramatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Membangun kesadaran berIslam

Dalam sebuah hadits diriwayatkan :
“Islam itu awalnya asing dan ia akan kembali asing seperti permulaannya, maka bahagialah golongan ghuraba. Sahabat-sahabat bertanya kepada beliau: Siapakah golongan ghuraba ya Rasulullah? Beliau bersabda: Mereka adalah golongan yang memperbaiki keadaan yang dirusakkan manusia”.(HR. Ahmad)

Sungguh benarlah hadits ini, dapat kita lihat fenomena kaum muslimin di sekitar kita, betapa banyak diantara kita yang mengaku muslim tapi tidak menunjukkan bekas dari keIslamannya tsb sampai-sampai populer istilah “Islam KTP”. Atau menjalankan Islam tapi hanya sebatas ritual-ritual ibadahnya saja yang menunjukkan pemahaman yang parsial terhadap ajaran Islam.

Di lain pihak, kita juga melihat sebagian umat Islam, yang jumlahnya relatif sedikit yang merasa prihatin dengan keadaan tsb dan berusaha memperbaikinya. Bisa dibayangkan besarnya pahala yang akan diraih oleh kaum ghuraba serta tingginya kedudukan mereka. Yang dimaksud adalah kaum ghuraba terhadap agamanya alias mereka menjadi asing lantaran berpegang teguh kepada al-Haq dan beristiqamah terhadapnya, bukan mereka yang menjauh dari negeri asalnya dan menjadi asing disana.

Hadits itu juga menyiratkan salah satu faktor yang membedakan antara kedua golongan tsb adalah perbedaan kesadaran terhadap Dinul Islam. Kesadaran akan ajaran Islam yang kaffah(menyeluruh) mencakup seluruh lini kehidupan, yang sebelum datangnya Islam tidak dikenal adanya Din yang serupa.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. 2:208)

Urgensi membina kesadaran berIslam juga bisa dilihat dari 4 faktor berikut :

1. Islam harus dimulai dari kesadaran

Berislam yang benar seharusnya dimulai dari kesadaran, bukan ikut-ikutan. Bisa saja seseorang bersyahadat tanpa kesadaran, namun hal itu tidak akan punya makna dan sulit dipertanggungjawabkan. Sebab yang menjadi dasar pegangan ucapan dan sikapnya adalah tradisi, bukan pilihan kesadaran hati.

Kesadaran dalam berislam itu penting artinya. Sebab aspek batiniah hanya bermakna dan bernilai jika disertai dengan kesadaran, dalam hal ini niat karena Allah Subhaanahu wa ta’ala. Karena itu dikatakan, awaluddien ma’rifatullah, awal dari dien adalah mengenal Allah.

Pada hakekatnya setiap tindakan yang dijalankan tanpa kesadaran tauhid tidak memiliki nilai dan makna. Karena segala amal perbuatan manusia itu dinilai dari niatnya. Ibadah yang kehilangan makna tidak akan memberikan buah. Shalat dilakukan, tetapi kemunkaran tetap jalan terus.

2. Kesadaran, bahwa berislam adalah kebutuhan

Seseorang yang memilih Islam sebagai agamanya secara sadar, akan merasakan Islam sebagai kebutuhan, bukan sebagai beban atau paksaan. Dia memilih Islam karena butuh kepada Allah dan menyadari posisinya sebagai hamba yang butuh bimbinganNya. Sudah menjadi fitrah manusia bila selalu ingin berterima kasih kepada Dzat yang Maha Segalanya. Dengan kesadaran semacam itu, dia akan mampu menikmati komunikasi dan pengorbanannya kepada Allah Swt. Dengan begitu berislam akan terasa ringan dan mudah. Seseorang yang berislam dari kesadaran akan mampu mengembangkan bobot dan kualitas imannya lebih jauh.

Berbeda halnya dengan seseorang yang sejak awal berislam bukan dari kesadaran. Ia akan merasakan Islam sebagai beban. Ibadah yang dilakukan akan dirasakan sebagai keterpaksaan. Bahkan tidak mustahil bobot keislamannya merosot. Agar hal itu tidak terjadi, maka tidak ada jalan lain kecuali membuka kesadaran hatinya.

3. Islam harus menjadi pilihan kesadaran

Tidak ada paksaan dalam agama, karena sesungguhnya telah jelas petunjuk dan kesesatan. Allah Swt memberikan kemerdekaan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya, iman atau kufur. Masing-masing telah dibentangkan jalannya, cara pencapaiannya, dan konsekuensinya. Seseorang yang menjadikan Islam sebagai pilihan hidup secara sadar, ia tahu bahwa Islam sebagai petunjuk kebenaran dalam hidupnya. Dia tidak mau menukar petunjuk dengan kesesatan. Islam dipilih karena disadari sebagai rahmat.

4. Kesadaran untuk menyebarkan dan memperjuangkan

Seseorang yang telah memilih Islam dengan kesadaran dan mampu menikmatinya, akan tumbuh dorongan dari dalam untuk menyebarkan Islam dan memperjuangkannya. Inilah yang menyebabkan sejak kelahirannya, yang dimulai dari turunnya seruan iqra’, gerak da’wah Islam langsung berjalan.

Abu Bakar yang baru masuk Islam, berusaha merekrut teman-temannya seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Bilal bin Rabbah. Bila seseorang berislam bukan atas kesadaran sendiri, maka tidak akan ada dorongan berda’wah. Jangankan berda’wah untuk orang lain, mempertahankan keislamannya sendiri saja sudah berat.

Sebagai hasil tumbuhnya kesadaran berIslam sangat jelas digambarkan dalam ayat berikut :
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk(memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (QS. 6:125)

Terakhir, kiat membangun kesadaran berislam dapat diringkas sebagai berikut :
a) Tarbiyah bit talaqqi agar bertambah ilmu
b) Tarbiyah bil ahdats agar tinggi apresiasinya:
i) Menjaga hidayah atas keislamannya
ii) Mengajak orang untuk berislam
iii) Berjuang untuk mempertahankan dari serangan lawan

Memahami Mbah Maridjan (Sang Pengemban Amanat sejati)

“Ojo melu-melu aku, manuto karo wong pinter kae. Aku nang kene muk kon jogo.”

Belum pulih terhadap duka Wasior, Indonesia dihantam tsunami tepatnya di sekitar kepulaua Mentawai. Gelombang tsunami ini menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya hilang tanpa kabar. Presiden beserta jajarannya langsung mengirim tenaga bantuan untuk membantu melakukan rekonstruksi.
Namun sekali lagi manusia memang tidak bisa berbuat apa-apa jika alam sudah bertindak. Belum sempat tim rekonstruksi berangkat ke Mentawai sudah ada musibah lain yang datang menghampiri. Letusan Merapi datang membawa korban jiwa. Salah satunya adalah tokoh fenomenal yang akrab disapa Mbah Marijan.
Banyak yang berduka atas kepergiannya. Namun ironisnya ada juga sebagian masyarakat yang justru gembira dan menumpahkan kekesalannya kepada almarhum. Sebagian mereka menganggap almarhum bersalah atas kematian warga lainnya. Sungguh miris, jika mereka mengenal sosok almarhum yang sesunguhnya pasti mereka akan menangisi diri mereka sendiri. Kita sering mendengar berita tentang almarhum, namun apakah kita benar-benar memahami almarhum?

Mbah Marijan yang saya kenal

“Ojo difoto yo, Mbah isin. Mbah udu artis.”

Saya pertama kali mengetahui sosok almarhum melalui media massa. Saat itu tahun 2008 dimana Merapi tampaknya akan meletus dan Mbah Marijan enggan mengungsi. Apa yang saya pikirkan tentang almarhum saat itu mungkin sama dengan angapan sebagian masyarakat saat ini.
Sebagai seorang juru kunci keraton, saya membayangkan sosok almarhum sebagai seseorang yang sangat kejawen dan jauh dari ajaran Islam. Memiliki banyak benda pusaka, sering bersemedi dan bertapa meminta wangsit, dan sebagainya. Terlebih lagi media massa menggambarkan sosok almarhum sebagai seorang juru kunci yang sakti.
Hal kedua yang saya pikirkan saat itu adalah sosok yang angkuh, sombong, keras kepala dan kuat. Terlebih lagi dalam iklan sebuah produk digambarkan almarhum sebagai sosok yang kuat dan keras. Penolakannya terhadap ajakan untuk mengungsi juga seolah menggambarkan almarhum sebagai sosok yang angkuh.
Namun pada akhirnya saya berkesempatan langsung bertemu dengan beliau. Saya yakin mereka yang telah bertemu dengan beliau pasti akan langsung berubah pikirannya tentang sosok almarhum. Sosok almarhum yang sesungguhnya sangat berbeda dengan anggapan saya sebelumnya.
Mbah Marijan adalah seorang kakek tua pemalu lugu yang hidup sederhana. Jauh dari kesan kuat ataupun keras kepala, maka almarhum sesungguhnya termasuk orang yang pemalu dan lugu. Sosok yang seringkali menolak waktu diambil gambarnya dan seringkali menutupi wajahnya ini adalah gambaran masyarakat pedesaan yang masih lugu, jauh dari masyarakat modern yang penuh prasangka dan curiga saat ini.
Sosok Mbah Marijan begitu lembut dan menyenangkan. Belia begitu ramah kepada orang asing dengan dibumbui sedikit rasa malu. Pribadi sederhana yang tidak macam-macam. Pribadi yang sulit saya jumpai di perkotaan.
Sewaktu saya sampai di rumanya dan melihat kesehariannya saya melhat Mbah Marijan jauh dari hal-hal yang berbau syirik. Tidak seperti apa yang saya duga selama ini. Kemampuanya melihat kejadian alam bukan karena kekuatan magis mistik namun semata-mata hanya dari ilmu titen yaitu dengan memperhatikan fenomena alam yang biasa terjadi.
Mbah Marijan adalah sosok sederhana yang sering ke masjid. Bahkan konon katanya penghasilannya sebagai bintang iklan untuk sebuah produk dihabiskannya hanya untuk membangun masjid dan lingkungan desanya, tidak untuk dirinya sendiri. Di masjid pun biasanya almarhum tidak menjadi imam. Benar-benar sosok pemimpin yang rendah hati.

Juru Kunci

Sebagai seorang pemuda desa yang sederhana, diberi amanah oleh seorang Raja dalam hal ini Sultan Hamengku Buwono IX sebagai seorang juru kunci tentu sebuah kehormatan yang sangat besar. Bayangkan saja jika seseorang yang sangat anda sayangi atau anda kagumi menyapa anda, tentu anda sudah akan bahagia setengah mati. Namun ini tidak hanya tentang sapaan, ini sebuah amanah.
Sebagai seorang yang sederhana, saya memahami jika almarhum menjunjung tinggi amanah yang diberikan kepadanya sebagai juru kunci merapi. Dalam artian bahwa almarhum harus sealu berada dekat dengan merapi dan menjadi yang terdepan. Anggaplah sebagai seorang duta besar Keraton untuk Merapi.
Sebagai seorang duta besar yang baik, tentunya harus selalu berada dekat dengan negara yang diamanahkan kepada kita. Kita memiliki tugas untuk erus menjaga hubungan baik antara negara kita dengan negara lain apapun yang terjadi. Keberadaannya sebagai bentuk penghoratan bagi negara lain.
Begitu juga dengan almarhum. Sejak awal almarhum memang mengabdikan hidup dan matinya untuk menjaga Merapi apapun yang terjadi. Sebuah kesetiaan dalam menjunjung tinggi amanah meski harus dihargai dengan nyawa. Kesetiaan yang dalam masyarakat modern hanya dianggap sebagai kekonyolan yang pantas untuk ditertawakan.
Almarhum juga tidak pernah memiliki keinginan masyarakat percaya kepada dirinya. Berkali-kali almarhum berkata untuk jangan percaya kepadanya, percayalah kepada para ahli. Lamarhum juga sudah menganjurkan masyarakat untuk ikut mengungsi.
Namun kasih sayang masyarakat dan orang-orang yang telah mengenal almarhum jauh lebih besar daripada nyawa. Kasih sayang yang meyebabkan sebagian besar masyarakat tetap memilih tinggal bersama almarhum dan berulangkali membujuk almarhumuntuk turun.
Akan tetapi bagi almarhum hanya ada satu pilihan: hidup mati akan tetap menjaga amanah yang telah diberikan seorang Sultan kepadanya.

Antara Fitnah dan Ghibah

“Janganlah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu ketahui”

Rasulullah pernah mengingatkan kepad salah seorang sahabat untuk tidak membicaakan keburukan orang lain. Lalu sahabat bertanya, “Bagaimana jika keburukan itu memag nyata adanya”. Maka Rasulullah berkata bahwa jika benar adanya maka itu yang disebut ghibah dan jika tidak benar maka itu disebut fitnah.
Ghibah adalah salah satu perbuatan terkutuk dimana Allah SWT menyamakan perbuatan tersebut dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Sedangkan fitnah adalah perbuatan terkutuk lainnya dimana Rasulullah bersabda bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Maka siapa pun yang menjelek-jelekkan orang lain atau mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain maka baginya hanya ada dua pilihan: memakan bangkai saudaranya sendiri atau lebih kejam daripada membunuh.
Jika ada yang pantas menutupi mukanya adalah kita, sebagaimana almarhum menutupi mukanya dari kamera maka kita seharusnya lebih malu dihadapan Allah SWT nantinya. Kita yang telah melupakan nilai-nilai luhur yang almarhum pegang teguh hingga akhir hayatnya. Kita yang menertawakan apa yang almarhum perjuangkan.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya. Terimalah amal ibadahnya dan mudahkanlah jalannya. Ampuni kami yang telah berbuat dzalim. Sadarkanlah kami akan kesalahan kami dan semoga kami tidak mengulangi kesalahan tersebut. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf dan Maha Penerima Taubat. Amin.

Sebuah Renungan dalam HUT ke-65 Kemerdekaan RI

Banyak sebenarnya yang tidak tahu dimanakah negara terkaya di planet bumi ini, ada yang mengatakan Amerika, ada juga yang mengatakan negera-negara di timur tengah. tidak salah sebenarnya, contohnya amerika. negara super power itu memiliki tingkat kemajuan teknologi yang hanya bisa disaingi segelintir negara, contoh lain lagi adalah negara-negara di timur tengah.Rata-rata negara yang tertutup gurun pasir dan cuaca yang menyengat itu mengandung jutaan barrel minyak yang siap untuk diolah. tapi itu semua belum cukup untuk menyamai negara yang satu ini. bahkan Amerika, Negara-negara timur tengah serta Uni Eropa-pun tak mampu menyamainya.dan inilah negara terkaya di planet bumi yang luput dari perhatian warga bumi lainya. warga negara ini pastilah bangga jika mereka tahu. tapi sayangnya mereka tidak sadar “berdiri di atas berlian” langsung saja kita lihat profil negaranya.

Wooww… Apa yang terjadi? apakah penulis (saya) salah? tapi dengan tegas saya nyatakan bahwa negara itulah sebagai negara terkaya di dunia. tapi bukankah negara itu sedang dalam kondisi terpuruk? hutang dimana-mana, kemiskinan, korupsi yang meraja lela, kondisi moral bangsa yang kian menurun serta masalah-masalah lain yang sedang menyelimuti negara itu.baiklah mari kita urai semuanya satu persatu sehingga kita bisa melihat kekayaan negara ini sesungguhnya.

1. Negara ini punya pertambangan emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia. namanya PT Freeport.

pertambangan ini telah mengasilkan 7,3 JUTA ton tembaga dan 724,7 JUTA ton emas. saya (penulis= suranegara) mencoba meng-Uangkan jumlah tersebut dengan harga per gram emas sekarang, saya anggap Rp. 300.000. dikali 724,7 JUTA ton emas/ 724.700.000.000.000 Gram dikali Rp 300.000. = Rp.217.410.000.000.000.000.000 Rupiah!!!!! ada yang bisa bantu saya cara baca nilai tersebut? itu hanya emas belum lagi tembaga serta bahan mineral lain-nya.lalu siapa yang mengelola pertambangan ini? bukan negara ini tapi AMERIKA! prosentasenya adalah 1% untuk negara pemilik tanah dan 99% untuk amerika sebagai negara yang memiliki teknologi untuk melakukan pertambangan disana. bahkan ketika emas dan tembaga disana mulai menipis ternyata dibawah lapisan emas dan tembaga tepatnya di kedalaman 400 meter ditemukan kandungan mineral yang harganya 100 kali lebih mahal dari pada emas, ya.. dialah URANIUM! bahan baku pembuatan bahan bakar nuklir itu ditemukan disana. belum jelas jumlah kandungan uranium yang ditemukan disana, tapi kabar terakhir yang beredar menurut para ahli kandungan uranium disana cukup untuk membuat pembangkit listrik Nuklir dengan tenaga yang dapat menerangi seluruh bumi hanya dengan kandungan uranium disana. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!

2. Negara ini punya cadangan gas alam TERBESAR DI DUNIA! tepatnya di Blok Natuna.

Berapa kandungan gas di blok natuna? Blok Natuna D Alpha memiliki cadangan gas hingga 202 TRILIUN kaki kubik!! dan masih banyak Blok-Blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu dll. DIKELOLA SIAPA? EXXON MOBIL! dibantu sama Pertamina.

3. Negara ini punya Hutan Tropis terbesar di dunia. hutan tropis ini memiliki luas 39.549.447 Hektar, dengan keanekaragaman hayati dan plasmanutfah terlengkap di dunia.

Letaknya di pulau sumatra, kalimantan dan sulawesi.sebenarnya jika negara ini menginginkan kiamat sangat mudah saja buatmereka. tebang saja semua pohon di hutan itu makan bumi pasti kiamat.karena bumi ini sangat tergantung sekali dengan hutan tropis ini untukmenjaga keseimbangan iklim karena hutan hujan amazon tak cukup kuatuntuk menyeimbangkan iklim bumi. dan sekarang mereka sedikit demi sedikitelah mengkancurkanya hanya untuk segelintir orang yang punya uanguntuk perkebunan dan lapangan Golf. sungguh sangat ironis sekali.

4. Negara ini punya Lautan terluas di dunia. dikelilingi dua samudra, yaitu Pasific dan Hindia hingga tidak heran memiliki jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki negara lain.

Saking kaya-nya laut negara ini sampai-sampai negara lain pun ikut memanen ikan di lautan negara ini.

5. Negara ini punya jumlah penduduk terbesar ke 4 didunia.

Bengan jumlah penduduk segitu harusnya banyak orang-orang pintar yang telah dihasilkan negara ini, tapi pemerintah menelantarkan mereka-mereka. sebagai sifat manusia yang ingin bertahan hidup tentu saja mereka ingin di hargai. jalan lainya adalah keluar dari negara ini dan memilih membela negara lain yang bisa menganggap mereka dengan nilai yang pantas.

6. Negara ini memiliki tanah yang sangat subur. karena memiliki banyak gunung berapi yang aktif menjadikan tanah di negara ini sangat subur terlebih lagi negara ini dilintasi garis katulistiwa yang banyak terdapat sinar matahari dan hujan.

Jika dibandingkan dengan negara-negara timur tengah yang memiliki minyak yang sangat melimpah negara ini tentu saja jauh lebih kaya. coba kita semua bayangkan karena hasil mineral itu tak bisa diperbaharui dengan cepat. dan ketika seluruh minyak mereka telah habis maka mereka akan menjadi negara yang miskin karena mereka tidak memiliki tanah sesubur negara ini yang bisa ditanami apapun juga. bahkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

7. Negara ini punya pemandangan yang sangat eksotis dan lagi-lagi tak ada negara yang bisa menyamainya. dari puncak gunung hingga ke dasar laut bisa kita temui di negara ini.

Negara ini sangat amat kaya sekali, tak ada bangsa atau negara lain sekaya INDONESIA! tapi apa yang terjadi?

dialah INDONESIA!

untuk EXXON MOBIL OIL, FREEPORT, SHELL, PETRONAS dan semua PEJABAT NEGARA yang menjual kekayaan Bangsa untuk keuntungan negara asing, diucapkan TERIMA KASIH.

Sebuah cerita mungkin akan bisa menggambarkan indonesia saat ini silahkan disimak.

Judulnya Ketika Tuhan Menciptakan IndonesiaSuatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, “Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?” “Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi,” kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, “Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang”.Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, “Lalu daerah apakah itu Tuhan?” “O, itu,” kata Tuhan, “itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni.”Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, “Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? “Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, “Wait, until you see the idiots I put in the government.” (tunggu sampai Saya menaruh ‘idiot2′ di pemerintahannya)

Dan untuk rasa terima kasih untuk Kemerdekaan Indonesia yang ke 65 tahun, kami pemuda-pemudi Indonesia memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada pejuang yang telah mengorbankan darah dan air mata mereka untuk bangsa yang tidak tahu terima kasih ini.

“Indonesia tanah air betadisana tempat lahir beta,dibuai dibesarkan bunda,Tempat berlindung di hari Tua…HIngga nanti menutup mata”

HIDUPLAH INDONESIA RAYA !!

INSAFLAH PARA KORUPTOR PENGHIANAT BANGSA !!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.